Judi Online Uang Asli Agen Judi Bola

Jumat, 18 Maret 2016

Cerita Darmin Soal Gejolak Ekonomi RI Sejak Zaman Soeharto

Cerita Darmin Soal Gejolak Ekonomi RI Sejak Zaman Soeharto


Cerita Darmin Soal Gejolak Ekonomi RI Sejak Zaman Soeharto
redwinbet-Darmin Nasution sudah secara resmi menerima jabatan Menteri Koordinator Perekonomian dari Sofyan Djalil. Dalam pidatonya Darmin bercerita soal gejolak ekonomi Indonesia dari masa ke masa.

Darmin mengaku tidak asing masuk ke lingkungan Kementerian Koordinator Perekonomian. Sebab, ia sudah malang melintang di dunia pemerintahan selama 20 tahun.

"Saya sebetulnya datang ke sini merasa tidak asing dan merasa cukup akrab. Walaupun mungkin sebagai orang baru, belum kenal betul dengan anda, tapi sebagai institusi, masuk ke pemerintahan sudah 20 tahun, pada waktu itu ekonomi Indonesia juga sedang mulai ada gejolak," ujar Darmin di kantornya, Lapangan Banteng, Rabu (12/8/2015).

Menurut Darmin, sejak masa pemerintahan Presiden Soeharto ekonomi Indonesia tumbuh lebih baik ketimbang sekarang ini yaitu sekitar 7-8%. Pertumbuhan bagus tapi dengan transaksi berjalannya yang selalu defisit, sekitar 0,5% dari PDB.

"Walau pun tidak besar, dianggap defisit ringan yang tidak akan menimbulkan risiko, dulu gejolak ekonomi dunia tidak seperti sekarang," ujarnya.

Ia mengatakan, Indonesia pernah dua kali mengalami lonjakan defisit transaksi berjalan di masa pemerintahan Soeharto, yaitu pada 1983 dan sekitar 1994-1995.

"Waktu 1983 saya belum masuk pemerintah. Waktu itu pemerintah melakukan perombakan besar-besaran, tadinya berorientasi ke dalam dirombak ke luar," ujarnya.

Pada rentang 1994-1995 defisit Indonesia hampir mencapai 3,5% dari PDB. Ini yang akhirnya berbuntut kepada krisis moneter di 1998.

"Sekarang juga walaupun jauh dengan krisis kita mengalami situasi ekonomi yang tidak begitu nyaman, kantor Kemenko dan BI selalu dikritisi terus kalau terjadi fluktuasi seperti sekarang ini," katanya.

Padahal, kata Darmin, ia percaya pemerintah sudah bekerja dan mengelola sektor keuangan Indonesia dengan baik. Sayangnya, penilaian masyarakat selalu memberatkan pemerintah.

"Dalam situasi seperti sekarang ini bagaimana pun daya kritis masyarakat itu yang kurang bagus dianggap tidak bagus, oleh karena itu saya mengajak teman-teman untuk lebih akurat," ujarnya.

Ketidakakuratan ini, kata Darmin, disebabkan oleh data yang tidak jelas. Oleh karena itu, pemerintah harus bisa memberikan data yang jelas dan transparan.

"Kelihatannya ya harus dimulai dengan data yang akurat, kalau datanya salah pasti kesimpulannya salah. Oleh karena itu, yang pertama dan penting adalah kalibrasi data, tidak bisa kita kemudian data untuk suatu hal sederhana ada 3-4 macam, itu mesti salah kesimpulannya," katanya.

0 komentar:

Posting Komentar