Kamis, 24 Maret 2016
Investor Asing Masih Pertanyakan Kondisi Infrastruktur RI
Redwinbet -Iklim Investasi di Indonesia dianggap kian
kondusif seiring dengan giatnya upaya penyederhanaan perizinan yang
dilakukan Pemerintah. Namun demikian masih ada pertanyaan mendasar yang
sering dilontarkan calon investor dari luar negeri yang akan
berinvestasi di Indonesia.
Harga Premium dan Solar Akan Turun Signifikan, Sampai Rp 1.000/Liter?
Harga Premium dan Solar Akan Turun Signifikan, Sampai Rp 1.000/Liter?
Redwinbet.com -Harga Bahan Bakar Minyak (BBM) untuk Premium
dan Solar diperkirakan akan turun signifikan dari yang berlaku sekarang.
Apakah sampai Rp 1000/liter?
"Nggak sampai Rp 1.000/liter," ujar
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Sudirman Said, di kantor
Kemenko Perekonomian, Jakarta, Kamis (24/3/2016).
Diketahui harga yang berlaku sekarang untuk Solar Rp 5.650/liter dan Premium sebesar Rp 7.050/liter.
Acuan
untuk penetapan harga masih sama seperti sebelumnya, yaitu pergerakan
harga minyak dunia, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat
(AS) dan efisiensi dari mata rantai distribusi BBM.
Sudirman menyampaikan, pengumuman harga akan dilakukan pada Selasa, 29 Maret 2016. Pemberlakuannya untuk per 1 April 2016.
"Nanti hari tanggal 29 akan kita umumkan, tunggu saja," terangnya.
Beberapa
waktu sebelumnya, Direktur Jenderal Minyak dan Gas Kementerian ESDM,
IGN Wiratmadja Puja mengungkapkan, besaran penurunan harga BBM jenis
Premium dan Solar bisa di atas Rp 200/liter. Hitungan ini didasarkan
pada penguatan kurs rupiah dan penurunan harga minyak dunia.
"Insya Allah turun. Lebih dari itu (Rp 200/liter). Pokoknya lebih lah," kata Wirat.
Harga Elpiji 3 Kg Batal Naik
Harga Elpiji 3 Kg Batal Naik
Redwinbet -Pemerintah batal menaikkan harga elpiji 3 kg
pada tahun ini. Akan tetapi pemerintah juga tidak akan menurunkan harga
elpiji, meskipun harga minyak dunia lebih rendah dari sebelumnya.
"Kemungkinan
tidak penurunan elpiji. Tapi juga tidak naik. Jadi harga akan stabil,"
ungkap Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Sudirman Said, di
kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Kamis (24/3/2016).
Seperti
diketahui dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2016,
ditetapkan bahwa harga elpiji tabung 3 kg dinaikkan Rp 1.000/kg atau
naik Rp 3.000/tabung.
Sudirman menjelaskan, dengan harga minyak
dunia yang rendah maka ada selisih harga yang terjadi. Ini akan
digunakan untuk perbaikan margin untuk para distributor elpiji 3 kg.
"Kami berpikir bahwa akan baik kalau margin para pengecer yang juga menjadi buffer kegiatan masyarakat diperbaiki. Itu kesempatan memperbaiki," terangnya.
Selasa, 22 Maret 2016
Kehadiran Jokowi Untuk Meresmikan Jembatan Terpanjang di Kalimantan.
Kehadiran Jokowi Untuk Meresmikan Jembatan Terpanjang di Kalimantan.
Jokowi: Kok Bisa Cepat Selesai?
Redwinbet.com-Presiden Joko Widodo (Jokowi) hari ini meresmikan Jembatan Kapuas Tayan
di Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat. Jokowi yang datang pukul 14.11
WIB menggunakan helikopter sempat menyapa warga sekitar dan disambut
sorak sorai.
Jokowi datang mengenakan baju putih didampingi oleh
Ibu Negara Iriana Joko Widodo, Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan
Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono, dan Gubernur Kalimantan Barat
Cornelis.
"Saya dua kali ke sini, jembatan ini tadi saya tanya kok bisa cepat sekali, Menteri PU jawab 3 shift, kenapa mesti ngebut
karena dibutuhkan masyarakat bahwa kalau kita menuju ke sana Sandong,
Entikong, atau Pontianak dan seterusnya lebih mudah," jelas Jokowi.
"Sebelumnya tadi pas datang saya juga diberi tahu tadi sebelum ada jembatan ini truk, bus, naik kapal feri untuk nyebrang bayarnya Rp 150-200 ribu, terus kalau sekarang ada jembatan nggak bayar, artinya masyarakat akan dapat keuntungan sekarang nggak bayar ongkos feri itu ini adalah sebuah efisiensi, dengan mengucap Bismillah jembatan Kapuas Tayan resmi dioperasikan," ujar Jokowi, saat peresmian Jembatan Tayan, di Kalimantan Barat, Selasa (22/3/2016).
Jembatan Kapuas Tayan memiliki panjang 1.650 meter dan terdiri dari dua
bentang, yaitu Jembatan I sepanjang 430 meter dan Jembatan II sepanjang
1.220 meter.
Selain pembangunan Jembatan Tayan, dibangun juga
jalan dengan total panjang 3,72 km yang terdiri dari Jalan Akses Utara
sepanjang 0,9 km, Jalan Pulau sepanjang 0,32 km, serta Jalan Akses
Selatan sepanjang 2,5 km.
Pengerjaan jembatan ini dilakukan oleh Joint Operation PT Wijaya Karya Tbk dengan China Road and Bridges Corporation.
Kehadiran
Jembatan Kapuas Tayan ini akan memberi manfaat langsung tidak hanya
untuk masyarakat, juga para pengusaha dan industri sekitarnya, selain
itu juga untuk percepatan ekonomi dan laju transportasi.
Dalam
rangka persiapan peresmian, Jembatan Kapuas Tayan ditutup sementara,
sejak pukul 00.00, Senin (21/3/2016). Untuk dua hari ini, para
pengendara yang akan melintas diminta untuk dapat menggunakan kapal
ferry yang disediakan PT ASDP.
Sebelum ada Jembatan Kapuas Tayan,
penyeberangan untuk orang dan motor, mengunakan motor tambang (perahu
klothok) dengan waktu tempuh lebih dari 10 menit ditambah waktu
antrenya. Sementara untuk roda empat atau truk menggunakan kapal ferry
dengan waktu tempuh 20 menit plus waktu antrenya.
Jembatan Kapuas
Tayan menghubungkan Provinsi Kalimantan Barat dengan Kalimantan Tengah
melalui Desa Tayan dan Desa Piasak, di Kecamatan Tayan Hilir, Kabupaten
Sanggau. Selain itu, jembatan ini sangat penting karena menghubungkan
jalan trans selatan Kalimantan yang belum tersambung.
Izin yang banyak dapat Menghambat Kemudahan Berbisnis di RI
Izin yang banyak dapat Menghambat Kemudahan Berbisnis di RI
Redwinbet.com -Pekerjaan rumah pemerintah untuk meningkatkan
kemudahan berbisnis dihadang puluhan ribu peraturan yang menghambat.
Peraturan-peraturan tersebut cukup mempersulit investor dalam mengurus
perizinan usaha di Indonesia.
"Presiden mengatakan ada 42 ribu
peraturan di Indonesia sebagai hambatan dalam berbisnis, kita terlalu
banyak izin," jelas Staf Ahli Bidang Pembangunan Daerah Kementerian
Kordinator Perekonomian Wahyu Utomo saat Sosialisasi Perbaikan Kemudahan
Bisnis di Indonesia di Crowne Plaza Hotel, Jakarta Pusat, Selasa
(22/03/2016).
Wahyu mengatakan, Presiden Joko Widodo (Jokowi)
juga meminta deregulasi terhadap peraturan-peraturan yang menghambat
investasi, dan fokus pada pembangunan infrastruktur
"Pesan dari
Presiden, fokus pembangunan untuk melakukan deregulasi dan pembangunan
infrastruktur. Deregulasi agar lebih fleksibel menghadapi perubahan di
dunia," ujar Wahyu.
Saat ini Menteri Kordinator Perekonomian
Darmin Nasution tengah ditugaskan oleh Presiden Joko Widodo membantu
BKPM untuk meningkatkan kemudahan berbisnis di Indonesia atau Ease of Doing Business (EODB) dari peringkat 109 ke 40.
"Menko
Perekonomian ditugaskan Presiden membantu BKPM untuk meningkatkan EODB
dari 109 ke 40. Ada 10 indikator dan diperbaikinya secara signifikan,
tidak hanya regulasi tapi juga dari lapangan," pungkas Wahyu.
Kemenkeu: Investor senang dengan Kondisi RI
Kemenkeu: Investor senang dengan Kondisi RI
Redwinbet.com -Pemerintah melalui Kementerian Keuangan
(Kemenkeu) baru saja menjual surat utang berbasis syariah atau sukuk
berdenominasi dolar Amerika Serikat (AS) sebesar US$ 2,5 miliar atau
sekitar Rp 32,5 triliun.
Robert Pakpahan, Direktur Jenderal
Pembiayaan dan Pengelolaan Risiko (Dirjen PPR) Kementerian Keuangan
menjelaskan, permintaan surat utang dari investor cukup tinggi. Ini
memperlihatkan kenyamanan untuk berinvestasi di Indonesia.
"Kan kita waktu roadshow dapat feedback. Tidak ada kekhawatiran yang signifikan dari mereka. Secara umum sangat happy dengan Indonesia," ujar Robert, di sela-sela acara Indonesia Investment Forum di Hotel Mandarin, Jakarta, Selasa (22/3/2016)
Pandangan
investor tersebut seiring dengan realisasi pertumbuhan ekonomi yang
masih mencapai level 4,8%. Defisit anggaran dalam Anggaran Pendapatan
dan Belanja Negara (APBN) juga terjaga pada level 2,51% terhadap Produk
Domestik Bruto (PDB).
"Mereka happy dengan pertumbuhan ekonomi 4,8% tahun lalu bagus. Defisit dijaga di bawah 3% bagus," terangnya.
Investor,
menurut Robert juga optimistis, ekonomi Indonesia tumbuh tinggi seiring
dengan agresivitas dalam pembangunan. Di samping juga tetap menjaga
sisi fundamental ekonomi.
"Pembangunan infrastruktur tahun laku
kan realisasi pembangunan infrastruktur tumbuh 40%. Bagus. Dan tahun
depan infrastruktur tetap tinggi bagus," kata Robert.
Minggu, 20 Maret 2016
Menghabiskan Anggaran Ratusan Milyar, Jembatan siak IV tak kunjung usai
Menghabiskan Anggaran Ratusan Milyar, Jembatan siak IV tak kunjung usai
Jembatan yang menghabiskan anggaran ratusan milyar ini kini terbengkalai tanpa sebab dan akibat yang jelas.
![]() |
| fotografer:mizy (jembatan siak IV dijalan jendral sudirman pekanbaru) |
Awal Terpuruknya Indonesia DI bidang ekonomi
Awal Terpuruknya Indonesia DI bidang ekonomi
Tags: cerita motivasi (1200), cerita islami (261), cerita hikmah (104), cerita nasehat (313), cerita teladan (334), kumpulan cerita motivasi (203), kisah islami(247), kisah teladan (331), kisah hikmah (110), kumpulan kisah teladan (263), artikel motivasi (2011), artikel islam (105), artikel kesehatan (211), kumpulan artikel motivasi (300), berita islami (2012), motivasi islam (2010),artikel kesehatan (500)
Bagai mana awal kehancuran ekonomi indonesia???bunuh dirikah atau di bunuh bangsa lain???
Mulai 1 Januari 2010, Indonesia harus membuka pasar dalam negeri secara luas kepada negara-negara ASEAN dan China. Begitu pula sebaliknya, dikatakan Indonesia mendapatkan kesempatan lebih luas untuk memasuki pasar dalam negeri negara-negara tersebut.
Mulai 1 Januari 2010, Indonesia harus membuka pasar dalam negeri secara luas kepada negara-negara ASEAN dan China. Begitu pula sebaliknya, dikatakan Indonesia mendapatkan kesempatan lebih luas untuk memasuki pasar dalam negeri negara-negara tersebut.
Pembukaan
pasar ini merupakan realisasi perjanjian perdagangan bebas antara enam
negara anggota ASEAN (Indonesia, Thailand, Malaysia, Singapura,
Filipina, dan Brunei Darussalam) dengan China atau ASEAN-China Free
Trade Agreement (ACFTA).
Pro Kontra Pasar Bebas ASEAN-China
Dengan dimulainya perdagangan bebas antara Indonesia dengan negara-negara ASEAN plus China tahun ini, maka berbagai konsekwensi pun harus ditanggung Indonesia. Pihak yang pro ACFTA menyatakan ACFTA tidak berarti hanya ancaman invasi produk-produk China tetapi juga peluang Indonesia untuk meningkatkan ekspor ke China dan negara-negara ASEAN.
Dengan dimulainya perdagangan bebas antara Indonesia dengan negara-negara ASEAN plus China tahun ini, maka berbagai konsekwensi pun harus ditanggung Indonesia. Pihak yang pro ACFTA menyatakan ACFTA tidak berarti hanya ancaman invasi produk-produk China tetapi juga peluang Indonesia untuk meningkatkan ekspor ke China dan negara-negara ASEAN.
Purbaya
Yudi Sadewa dari Danareksa Research Institute menyimpulkan meski ada
dampak negatif terhadap sektor tertentu, secara keseluruhan dampak
positif lebih besar. Karena itu Purbaya menyarankan Indonesia tidak
perlu menarik diri dari liberalisasi ini (Kompas, 4/1/2010).
Kekhawatiran akan dampak negatif perdagangan bebas ASEAN-China juga ditepis pemerintah melalui Kepala Badan Kebijakan Fiskal Departemen Keuangan Anggito Abimanyu. Menurut Abimanyu, proporsi perdagangan antara Indonesia dengan ASEAN dan China hanya 20% saja.
Kekhawatiran akan dampak negatif perdagangan bebas ASEAN-China juga ditepis pemerintah melalui Kepala Badan Kebijakan Fiskal Departemen Keuangan Anggito Abimanyu. Menurut Abimanyu, proporsi perdagangan antara Indonesia dengan ASEAN dan China hanya 20% saja.
Sementara
itu Ernovian G Ismy, Sekjen Asosiasi Pertekstilan Indonesia menyatakan
kekhawatirannya atas pemberlakukan perdagangan bebas ASEAN-China.
Ernovian mengkhawatirkan berubahnya pola usaha yang ada dari pengusaha
menjadi pedagang. Sebab jika berdagang lebih menguntungkan karena faktor
harga barang-barang impor yang lebih murah, akan banyak industri
nasional dan lokal yang gulung tikar hingga akhirnya berpindah menjadi
pedagang saja (Republika, 4/1/2010).
Ernovian mencontohkan jumlah industri tekstil dari kelas industri kecil hingga besar bisa mencapai 2.000. Jika setiap industri tekstil mampu menyerap 12-50 orang tenaga kerja, maka bisa dibayangkan hancurnya kita karena akan banyak pengusaha yang beralih dari produsen tekstil menjadi pedagang yang juga berimplikasi pada penyerapan tenaga kerja.
Ernovian mencontohkan jumlah industri tekstil dari kelas industri kecil hingga besar bisa mencapai 2.000. Jika setiap industri tekstil mampu menyerap 12-50 orang tenaga kerja, maka bisa dibayangkan hancurnya kita karena akan banyak pengusaha yang beralih dari produsen tekstil menjadi pedagang yang juga berimplikasi pada penyerapan tenaga kerja.
Sekjen
Asosiasi Pengusaha Indonesia, Djimanto menilai ada tujuh sektor yang
paling terpengaruh dengan serbuan produk-produk China, antara lain
industri tekstil, alas kaki, pertanian, dan baja. Sedangkan mantan
Dirjen Bea Cukai, Anwar Surijadi mempertanyakan manfaat pemberlakukan
perdagangan bebas ini bagi masyarakat. Anwar merisaukan hal ini karena
industri Indonesia akan terganggu (Republika, 4/1/2010).
Hal
yang sangat dikhawatirkan mengenai dominasi China terhadap Indonesia
disampaikan Menteri Perindustrian MS Hidayat. Menurut Hidayat dalam
kerangka ACFTA yang berlatarbelakang semangat bisnis, China bisa berbuat
apa pun untuk mempengaruhi Indonesia mengingat kekuatan ekonominya jauh
di atas Indonesia (Bisnis Indonesia, 9/1/2010).
Membunuh Ekonomi Nasional
Sebelum realisasi perjanjian perdagangan bebas dengan China, kita sudah mendapatkan hampir segala lini produk yang dipergunakan di rumah dan perkantoran saja bertuliskan made in China. Bahkan tidak sedikit produk dari negara maju yang masuk ke Indonesia pun mengikutsertakan produk China sebagai perlengkapannya. Seorang ekonom yang juga pejabat menteri ekonomi di kabinet pemerintahan sekarang mengomentari serbuan produk China ke Indonesia dengan dimulainya perdagangan bebas Indonesia-China “seperti air bah”.
Sebelum realisasi perjanjian perdagangan bebas dengan China, kita sudah mendapatkan hampir segala lini produk yang dipergunakan di rumah dan perkantoran saja bertuliskan made in China. Bahkan tidak sedikit produk dari negara maju yang masuk ke Indonesia pun mengikutsertakan produk China sebagai perlengkapannya. Seorang ekonom yang juga pejabat menteri ekonomi di kabinet pemerintahan sekarang mengomentari serbuan produk China ke Indonesia dengan dimulainya perdagangan bebas Indonesia-China “seperti air bah”.
Karena itu pemberlakuan pasar bebas ASEAN-China sudah pasti menimbulkan implikasi yang sangat negatif.
Pertama, invasi produk asing terutama dari China di tengah lemahnya infrastruktur ekonomi, modal, daya saing, dan dukungan pemerintah, dapat menyebabkan hancurnya sektor-sektor ekonomi yang diserbu.
Pertama, invasi produk asing terutama dari China di tengah lemahnya infrastruktur ekonomi, modal, daya saing, dan dukungan pemerintah, dapat menyebabkan hancurnya sektor-sektor ekonomi yang diserbu.
Sektor
industri pengolahan (manufaktur) dan industri kecil menengah (IKM)
merupakan sektor ekonomi yang paling terkena dampak realisasi perjanjian
perdagangan bebas ini. Padahal sebelum tahun 2009 saja Indonesia telah
mengalami proses deindustrialisasi.
Berdasarkan
data Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Indonesia, peran industri
pengolahan mengalami penurunan dari 28,1% pada 2004 menjadi 27,9% pada
2008. Begitupula diproyeksikan 5 tahun ke depan investasi di sektor
industri pengolahan mengalami penurunan US$ 5 miliar yang sebagian besar
dipicu oleh penutupan sentra-sentra usaha strategis IKM.
Jumlah
IKM yang terdaftar pada Kementrian Perindustrian tahun 2008 mencapai
16.806 dengan skala modal Rp 1 miliar hingga Rp 5 miliar. Dari jumlah
tersebut, 85% di antaranya dikatagorikan akan mengalami kesulitan dalam
menghadapi persaingan dengan produk dari China (Bisnis Indonesia,
9/1/2010).
Kedua, pasar lokal dan nasional yang diserbu produk asing dengan kualitas dan harga yang sangat bersaing akan mendorong pengusaha dalam negeri berpindah usaha dari produsen di berbagai sektor ekonomi menjadi importir atau pedagang saja.
Kedua, pasar lokal dan nasional yang diserbu produk asing dengan kualitas dan harga yang sangat bersaing akan mendorong pengusaha dalam negeri berpindah usaha dari produsen di berbagai sektor ekonomi menjadi importir atau pedagang saja.
Sebagai
contoh, harga tekstil dan produk tekstik (TPT) China lebih murah antara
15% hingga 25%. Menurut Wakil Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan
Indonesia (API), Ade Sudrajat Usman, selisih 5% saja sudah membuat
industri lokal kelabakan apalagi perbedaannya besar (Bisnis Indonesia,
9/1/2010). Hal yang sangat memungkinkan bagi pengusaha lokal untuk
bertahan hidup adalah pilihan pragmatis dengan banting setir dari
produsen tekstil menjadi importir tekstil China atau setidaknya pedagang
tekstil. Sederhananya, “buat apa memproduksi tekstil bila kalah
bersaing, lebih baik impor saja murah dan tidak perlu repot-repot jika
diproduksi sendiri”.
Inilah
fenomena yang mulai nampak sebagaimana yang akhir-akhir ini ditayangkan
televisi nasional sejak awal tahun 2010. Misalnya para pedagang jamu
sangat senang dengan membanjirnya produk jamu China secara legal yang
harganya murah dan dianggap lebih manjur dibandingkan jamu lokal.
Akibatnya produsen jamu lokal terancam gulung tikar.
Ketiga, kondisi ini akan membuat karakter perekomian nasional semakin tidak mandiri dan lemah. Segalanya bergantung pada asing, bahkan produk “tetek bengek” seperti jarum saja harus diimpor. Jika banyak sektor ekonomi bergantung pada impor sedangkan sektor-sektor vital ekonomi nasional juga sudah dirambah dan dikuasai asing, maka apalagi yang bisa diharapkan dari kekuatan ekonomi nasional Indonesia?
Keempat, jika di dalam negeri saja kalah bersaing bagaimana mungkin produk-produk Indonesia memiliki kemampuan hebat bersaing di pasar ASEAN dan China? Data menunjukkan tren pertumbuhan ekspor non migas Indonesia ke China sejak 2004 hingga 2008 hanya 24,95%. Ini lebih kecil dengan tren pertumbuhan ekspor China ke Indonesia yang mencapai 35,09%.
Ketiga, kondisi ini akan membuat karakter perekomian nasional semakin tidak mandiri dan lemah. Segalanya bergantung pada asing, bahkan produk “tetek bengek” seperti jarum saja harus diimpor. Jika banyak sektor ekonomi bergantung pada impor sedangkan sektor-sektor vital ekonomi nasional juga sudah dirambah dan dikuasai asing, maka apalagi yang bisa diharapkan dari kekuatan ekonomi nasional Indonesia?
Keempat, jika di dalam negeri saja kalah bersaing bagaimana mungkin produk-produk Indonesia memiliki kemampuan hebat bersaing di pasar ASEAN dan China? Data menunjukkan tren pertumbuhan ekspor non migas Indonesia ke China sejak 2004 hingga 2008 hanya 24,95%. Ini lebih kecil dengan tren pertumbuhan ekspor China ke Indonesia yang mencapai 35,09%.
Kalaupun
ekspor Indonesia bisa digenjot, yang sangat memungkinkan berkembang
justru ekspor bahan mentah bukannya hasil olahan yang memiliki nilai
tambah seperti ekspor hasil industri. Pola ini malah sangat digemari
oleh China yang memang sedang “haus” bahan mentah dan sumber energi
untuk menggerakkan ekonominya.
Secara
umum, neraca perdagangan Indonesia dengan China dan negara-negara
anggota ASEAN semakin defisit sebagaimana data ekspor-impor Indonesia
yang baru dirilis BPS. Ekspor Indonesia ke China selama Januari-November
2009 mencapai US$ 7,71 miliar sedangkan impornya US$ 12,01 miliar.
Dengan Singapura, ekspor Indonesia tahun 2008 US$ 12,86 miliar dan impor
US$ 21,79 miliar. Indonesia juga mengalami defisit neraca dagang dengan
Thailand sebesar US$ 2,67 sedangkan dengan Malaysia defisit US$ 2,49
miliar (Kompas, 5/1/2010). Ini sangat mengkhawatirkan di tengah arus
liberalisasi perdagangan yang dijalankan Indonesia.
Kelima, terpangkasnya peranan produksi terutama sektor industri manufaktur dan IKM dalam pasar nasional karena perannya digantikan impor dampaknya juga menimpa penyediaan lapangan kerja. Tentu ini sangat memberatkan para pekerja dan pendatang baru dunia kerja. Padahal setiap tahun angkatan kerja baru bertambah lebih dari 2 juta orang sedangkan pada periode Agustus 2009 jumlah pengangguran terbuka mencapai 8,96 juta orang.
Kelima, terpangkasnya peranan produksi terutama sektor industri manufaktur dan IKM dalam pasar nasional karena perannya digantikan impor dampaknya juga menimpa penyediaan lapangan kerja. Tentu ini sangat memberatkan para pekerja dan pendatang baru dunia kerja. Padahal setiap tahun angkatan kerja baru bertambah lebih dari 2 juta orang sedangkan pada periode Agustus 2009 jumlah pengangguran terbuka mencapai 8,96 juta orang.
Pada
prinsipnya pasar bebas merupakan bagian dari paket liberalisasi
ekonomi. Liberalisasi adalah proses untuk menghilangkan peran pemerintah
dalam berbagai sektor kehidupan masyarakat dan menyerahkannya pada
peranan pasar (baca: kaum pemilik modal).
Dalam Islam, peran pemerintah di tengah-tengah masyarakat adalah paten sebagaimana hadist Rasulullah SAW yang berbunyi: “Seorang imam adalah pemelihara dan pengatur urusan (rakyat), dan ia akan dimintai pertanggungjawabannya terhadap rakyatnya.” Artinya
negara tidak boleh melepaskan tanggungjawabnya terhadap segala urusan
rakyat sebagaimana spirit dan aplikasi liberalisasi ekonomi yang justru
mengharuskan diamputasinya peran negara.
Kita
menyaksikan pemerintah telah melakukan “keteledoran luar biasa” dengan
melakukan perjanjian ACFTA sebagaimana perjanjian-perjanjian
internasional lainnya yang telah dilakukan pemerintah. Seakan-akan
pemerintah tidak berpikir dulu apa baik dan buruknya dalam setiap
perjanjian internasional yang mereka teken. Yang kita lihat justru
pemerintah sangat berbangga di hadapan asing dalam setiap
keikutsertaannya menandatangani perjanjian liberalisasi ekonomi.
Sementara yang kita saksikan dan rasakan kehidupan ekonomi rakyat
semakin terhimpit sedangkan kemandirian negara semakin lemah. Perjanjian
perdagangan bebas seperti ACFTA merupakan bentuk penghianatan
pemerintah terhadap rakyatnya yang seharusnya dilindungi dari
ketidakberdayaan ekonomi.
Ini
lah awal kehancuran perekonomian indonesia di akibatkan ego dan cara
berfikir reaktif pemimpin kita, yang berfikir hanya untuk jangka pendek,
tidak memikirkan nasib perekonomian di masa depan.
Jumat, 18 Maret 2016
JK Cerita Pernah Kecam IMF soal Suku Bunga Bank
JK Cerita Pernah Kecam IMF soal Suku Bunga Bank
JAKARTA, KOMPAS.com - Wakil Presiden Jusuf Kalla
kembali berharap Bank Indonesia (BI) segera menurunkan suku bunga acuan
untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.
Menurut JK, Indonesia sudah
memiliki banyak pengalaman sejak krisis 1998 silam. Saat itu
berdasarkan usul Dana Moneter Internasional atau International Monetary
Fund (IMF), Indonesia justru memilih menaikan suku bunga acuan demi
menjaga inflasi.
"Saya katakan ke (Managing Director IMF
Christine) Lagarde (IMF) 'kau lah yang menjebloskan ekonomi Indonesia
menjadi begini. Kamu membuat kebijakan yg salah'. Kalau untuk memerangi
inflasi dengan menaikkan suku bunga itu tidak benar," ujar JK di
Jakarta, Selasa (17/11/2015).
Di mata JK, akibatnya fatal. Saat itu ucap dia, bunga naik justru menyebabkan angka inflasi naik.
Menurut
JK, bunga bank bisa menjadi bagian dari ekonomi biaya tinggi. Oleh
karena itu, apabila ingin biaya ekonomi turun, maka bunga harus ikut
diturunkan.
"Maka kita harapkan BI evaluasi kebijakan tingkat bunga," kata JK.
Di Depan Pengusaha Asing, SBY Cerita Kondisi Ekonomi RI
"Pemerintah berusaha kuat meningkatkan pertumbuhan ekonomi."
Presiden SBY
redwinbet.com- Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Senin 24 Juni 2013, menerima pengusaha yang tergabung dalam forum bisnis AS-ASEAN atau US-ASEAN Business Council di kantornya. Dalam pertemuan tersebut, SBY memaparkan kondisi ekonomi Indonesia di tengah terpaan krisis ekonomi global saat ini.
Di depan delegasi, SBY mengatakan, pemerintah saat ini sedang berusaha kuat untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi Indonesia di tengah turunnya ekspor Indonesia akibat krisis global.
"Saat ini, kami masih menghadapi beberapa kesulitan di tingkat global. Untuk itu, pemerintah sedang berusaha kuat meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Kami juga memperkuat ketahanan ekonomi Indonesia," ujarnya.
Dalam upaya memperkuat ekonomi Indonesia, SBY melanjutkan, pemerintah Indonesia telah memiliki strategi yang tertuang dalam Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) 2025.
SBY berharap, strategi ini harus ditopang oleh berbagai motor pertumbuhan seperti investasi. Strategi ini akan membuat Indonesia tidak hanya menjadi sasaran konsumsi dunia melainkan dapat menjadi motor investasi.
"Kami memiliki MP3EI, saya berharap dapat mengakselerasi masterplan, dapat menarik investasi besar di berbagai sektor masuk ke Indonesia," katanya. (art)
Perekonomian China adalah ‘cerita kelemahan meresap
Kondisi ekonomi China melemah di seluruh papan pada kuartal akhir
2015, Cina Beige Book (CBB) laporan terbaru yang dirilis, Kamis (17
Desember) mengatakan.
Penjualan nasional pendapatan, volume, output, harga, keuntungan, menyewa, pinjaman dan belanja modal semua memburuk dari kuartal sebelumnya, menurut survei sektor swasta yang diterbitkan oleh kelompok riset yang berbasis di AS CBB International. Survei triwulanan, pertama kali diluncurkan pada tahun 2011 dan model setelah Federal Reserve AS Beige Book, yang disurvei lebih dari 2.100 perusahaan di seluruh China dalam berbagai sektor seperti ritel dan real estate.
Di antara berbagai komponen, nomor keuntungan yang “sangat mengganggu”, dengan pangsa perusahaan yang melaporkan keuntungan keuntungan mencapai rekor rendah, presiden CBB Mr Leland Miller menulis dalam siaran pers perusahaan.
Di sektor ritel dan real estate mengangkat cukup baik pada kuartal keempat, tetapi manufaktur dan jasa memasang kinerja suram, dengan pendapatan yang lebih lemah, kerja, belanja modal dan keuntungan.
“Populer terburu-buru untuk menemukan sukses manufaktur-to-jasa transisi harus ditunda sebentar. Hanya bagian tentang berjuang manufaktur diadakan benar,” kata Miller. “Hasil menceritakan sebuah kisah tentang kelemahan meresap.”
Laporan ini juga menyoroti dampak inflasi melambat: “Pertumbuhan harga input dan harga penjualan merosot ke rekor terendah-dan metrik kinerja perusahaan jatuh di seluruh papan. Untuk pertama kalinya, itu tampak seperti perusahaan yang menghadapi deflasi benar berbahaya. ”
Sementara itu, pasar kerja China melihat kondisi memburuk pada kuartal keempat, dengan pertumbuhan pekerjaan mengambil hit signifikan di tengah menyusut penawaran tenaga kerja. Dengan kerja menjadi metrik ekonomi utama di Cina, pemerintah akan menghadapi kemungkinan “meningkatkan tekanan untuk meningkatkan respon kebijakan” jika kelemahan di pasar tenaga kerja tetap, kata laporan itu.
Pada bulan Oktober, Bank Rakyat China (PBOC) memangkas suku bunga untuk keenam kalinya dalam waktu kurang dari setahun sambil menurunkan jumlah uang tunai bahwa bank harus memegang sebagai cadangan untuk keempat kalinya tahun ini, dalam upaya untuk melawan perlambatan persisten dalam perekonomian terbesar kedua di dunia.
Namun, melonggarkan kebijakan baru-baru ini mungkin telah sia-sia, menurut laporan CBB, sebagai persentase dari perusahaan pinjaman merosot ke rekor terendah pada kuartal keempat.
“Minat perusahaan di kedua pinjaman dan pengeluaran terus menurun, menunjukkan saatnya masa lalu ‘stimulus mafia’ rethinks tanggapan Pavlov nya. Reformasi atau bust,” tulis Mr Miller.
CARA BAD perlambatan CHINA’S?
Laporan terbaru dari CBB kontras dengan indikator ekonomi baru-baru keluar dari China yang menunjukkan stabilisasi dalam perekonomian.
Untuk satu, data pemerintah terbaru yang dirilis pada hari Jumat (18 Desember) menunjukkan harga rumah baru China naik untuk bulan kedua berturut-turut pada November, menawarkan tanda-tanda pemulihan tentatif di sektor properti yang sangat penting.
Rata-rata harga rumah baru naik 0,9 persen pada November dari tahun sebelumnya, menurut perhitungan Reuters berdasarkan data resmi dari Biro Statistik Nasional (NBS), memperluas bulan Oktober 0,1 persen kenaikan.
Ada juga analis yang memiliki pandangan yang lebih optimis terhadap perekonomian Cina.
“Gejolak pasar keuangan yang tumpah dari Cina ke seluruh dunia beberapa bulan lalu telah mereda. Berita ekonomi secara umum cerah juga (dengan) data yang dirilis selama bulan lalu menunjukkan pertumbuhan mengambil seluruh penyebaran indikator. Dampak dari kedua melonggarkan kebijakan fiskal dan moneter semakin jelas juga, “kata seorang catatan dari Capital Economics dirilis pada 18 Desember.
Penjualan nasional pendapatan, volume, output, harga, keuntungan, menyewa, pinjaman dan belanja modal semua memburuk dari kuartal sebelumnya, menurut survei sektor swasta yang diterbitkan oleh kelompok riset yang berbasis di AS CBB International. Survei triwulanan, pertama kali diluncurkan pada tahun 2011 dan model setelah Federal Reserve AS Beige Book, yang disurvei lebih dari 2.100 perusahaan di seluruh China dalam berbagai sektor seperti ritel dan real estate.
Di antara berbagai komponen, nomor keuntungan yang “sangat mengganggu”, dengan pangsa perusahaan yang melaporkan keuntungan keuntungan mencapai rekor rendah, presiden CBB Mr Leland Miller menulis dalam siaran pers perusahaan.
Di sektor ritel dan real estate mengangkat cukup baik pada kuartal keempat, tetapi manufaktur dan jasa memasang kinerja suram, dengan pendapatan yang lebih lemah, kerja, belanja modal dan keuntungan.
“Populer terburu-buru untuk menemukan sukses manufaktur-to-jasa transisi harus ditunda sebentar. Hanya bagian tentang berjuang manufaktur diadakan benar,” kata Miller. “Hasil menceritakan sebuah kisah tentang kelemahan meresap.”
Laporan ini juga menyoroti dampak inflasi melambat: “Pertumbuhan harga input dan harga penjualan merosot ke rekor terendah-dan metrik kinerja perusahaan jatuh di seluruh papan. Untuk pertama kalinya, itu tampak seperti perusahaan yang menghadapi deflasi benar berbahaya. ”
Sementara itu, pasar kerja China melihat kondisi memburuk pada kuartal keempat, dengan pertumbuhan pekerjaan mengambil hit signifikan di tengah menyusut penawaran tenaga kerja. Dengan kerja menjadi metrik ekonomi utama di Cina, pemerintah akan menghadapi kemungkinan “meningkatkan tekanan untuk meningkatkan respon kebijakan” jika kelemahan di pasar tenaga kerja tetap, kata laporan itu.
Pada bulan Oktober, Bank Rakyat China (PBOC) memangkas suku bunga untuk keenam kalinya dalam waktu kurang dari setahun sambil menurunkan jumlah uang tunai bahwa bank harus memegang sebagai cadangan untuk keempat kalinya tahun ini, dalam upaya untuk melawan perlambatan persisten dalam perekonomian terbesar kedua di dunia.
Namun, melonggarkan kebijakan baru-baru ini mungkin telah sia-sia, menurut laporan CBB, sebagai persentase dari perusahaan pinjaman merosot ke rekor terendah pada kuartal keempat.
“Minat perusahaan di kedua pinjaman dan pengeluaran terus menurun, menunjukkan saatnya masa lalu ‘stimulus mafia’ rethinks tanggapan Pavlov nya. Reformasi atau bust,” tulis Mr Miller.
CARA BAD perlambatan CHINA’S?
Laporan terbaru dari CBB kontras dengan indikator ekonomi baru-baru keluar dari China yang menunjukkan stabilisasi dalam perekonomian.
Untuk satu, data pemerintah terbaru yang dirilis pada hari Jumat (18 Desember) menunjukkan harga rumah baru China naik untuk bulan kedua berturut-turut pada November, menawarkan tanda-tanda pemulihan tentatif di sektor properti yang sangat penting.
Rata-rata harga rumah baru naik 0,9 persen pada November dari tahun sebelumnya, menurut perhitungan Reuters berdasarkan data resmi dari Biro Statistik Nasional (NBS), memperluas bulan Oktober 0,1 persen kenaikan.
Ada juga analis yang memiliki pandangan yang lebih optimis terhadap perekonomian Cina.
“Gejolak pasar keuangan yang tumpah dari Cina ke seluruh dunia beberapa bulan lalu telah mereda. Berita ekonomi secara umum cerah juga (dengan) data yang dirilis selama bulan lalu menunjukkan pertumbuhan mengambil seluruh penyebaran indikator. Dampak dari kedua melonggarkan kebijakan fiskal dan moneter semakin jelas juga, “kata seorang catatan dari Capital Economics dirilis pada 18 Desember.
Cerita SBY Saat Atasi Badai Krisis Ekonomi tanpa Merasa Jomblo
Cerita SBY Saat Atasi Badai Krisis Ekonomi tanpa Merasa Jomblo
Presiden SBY mengukuhkan anggota
pasukan pengibar bendera pusaka (Paskibraka) yang akan bertugas pada 17
Agustus nanti, di Istana Negara, Senin (15/8). Sebanyak 66 anggota
Paskibraka, disesuaikan dengan HUT Kemerdekaan RI, diambil sumpahnya.
Foto: ABROR RIZKI / RUMGAPRES
Presiden yang akrab disapa SBY itu mengungkapkan Indonesia tidak boleh merasa sendirian dalam menghadapi pelbagai persoalan ekonomi.
Dalam dua periode kepemimpinannya, Indonesia pernah terkena dampak krisis keuangan global yang dipicu oleh persoalan kredit perumahan di Amerika Serikat pada 2008.
Akibatnya, menurut SBY, pertumbuhan ekonomi Indonesia pernah menyentuh titik terparah, berada di level 4,5 persen.
“Faktanya krisis 2008-2009 kami mampu kurangi dampaknya.”
Dia mengelaborasi bagaimana Indonesia bisa selamat dari krisis. Secara umum, menurutnya, krisis harus diselesaikan secara bersama dengan semua negara.
“Hubungan luar negeri harus tetap baik di era globalisasi, interconnected. Tidak ada negara yang jomblo, atasi masalah secara sendiri. Penting untuk memastikan yang kami lakukan sama dengan yang dilakukan dunia.” kata SBY.
Setelah itu, barulah pemerintah menjalankan strategi mengatasi krisis sesuai dengan karakteristik perekonomiannya.
Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang bertumpu pada konsumsi publik membuat pemerintah menjalankan strategi menjaga daya beli masyarakat.
“Selama masih ada demand maka sektor riil nggak akan bangkrut. Kalau perusahaan nggak bangkrut, nggak ada PHK,” imbuh SBY.
Kepala Badan Ekonomi Kreatif Triawan Munaf cerita mengenai tugas dan tantangannya
Kepala Badan Ekonomi Kreatif Triawan Munaf cerita mengenai tugas dan tantangannya
Pemerintahan Jokowi-JK pada awal tahun ini telah meresmikan
Badan Ekonomi Kreatif untuk fokus dalam pengembangan industri kreatif.
Dan Triawan Munaf dipilih sebagai Kepalanya.
Sejauh mana Badan Ekonomi Kreatif hingga kini dan tantangan apa yang harus diatasi? Berikut penjelasan Triawan Munaf melalui program The Captain 103.8 FM Brava Radio yang dipandu Ferdy Hasan, pada Kamis [22/10] lalu.
Badan Ekonomi Kreatif [Bekraf]
“Hampir semua yang Anda lihat di sekeliling kita, harus dikembangkan oleh kami. Setidaknya ada 16 subsektor yang harus kami kembangkan.
“Kalau dianalogikan sebagai sebuah produk, Bekraf sudah diumumkan tetapi produknya belum ada, harganya belum tahu, tapi namanya sudah. Sehingga orang yang begitu dengar namanya ‘pada ngantri di depan toko‘, ingin segera tahu sudah sampai mana tugasnya. Berarti apa, harapan mereka terhadap ekonomi kreatif dan badan yang mengurusinya sangat tinggi.
“Saya setiap hari bertemu dengan stake holder [pelaku industri kreatif], selain dari individu ada juga dari asosiasi. Kira-kira sudah lebih dari 220 kali meeting. Saya ajak bicara semua supaya tahu banget suasana hati, kondisi mereka, tantangan-tantangan mereka, regulasi-regulasi yang menurut mereka menghambat. Dan itu cukup memberikan mereka ketenangan.”
Tantangan
“Tantangannya ada di regulasi lama. Mereka sudah maju dengan teknologi digital tapi peraturan belum sesuai dan sejalan. Jadi gap itu adalah tugas awal kami. Sehingga harus banyak sekali pertemuan-pertemuan dengan kementerian lain, lembaga lain, untuk bisa sinergi dan siap ‘berlayar’ dalam dunia digital ini.”
Hal terpenting
“Saya selalu bicara dengan mereka yang sudah maju; Korea, Prancis, Amerika, China juga, dan mereka selalu mengatakan, ‘Sabar, kami tahu hambatannya banyak sekali dalam memajukan ekonomi kreatif’, ‘Kami butuh 13 tahun untuk seperti ini’, kata orang film dari Korea. ‘Bangun fondasi, jangan maju tanpa fondasi yang kuat, nanti akhirnya seperti komestik saja.’
“Karenanya untuk saya pribadi, lebih baik betul-betul memperkuat landasan, untuk nanti yang meneruskannya punya landasan yang kokoh.”
Dari ke-16 subsektor mana yang paling prioritas
“Ada 2 mashab dalam melihat ini. Yang satu melihat apa yang sudah besar sekarang itulah yang didorong lebih besar lagi. Seperti kuliner, fashion, kerajinan, itu kan sudah besar-besar kontribusinya kepada PDB, dan memang selalu pesat tumbuhnya tanpa ada Badan Ekonomi Kreatif pun.
“Tapi ada juga mashab lain yang melihat, justru biarkan mereka tumbuh dengan sendirinya, tentu dengan perhatian juga dari kami, tapi konsentrasi pada hal-hal yang masih under develope, seperti film, musik, dan digital. Kalau mereka dapat perhatian dan tumbuh semakin pesat seperti Korea, yang anggaran film Korea itu sudah sebesar anggaran belanja negara kita, film bisa menjadi lokomotif subsektor lain. Di film bisa masuk, fashion, musik, kuliner, dll.”
Itu dia Brava Listners ringkasan cerita di obrolan seru The Captain yang berakhir pada jam 10 pagi. Semoga industri kreatif yang masih berkembang dan terus melaju ini, semakin bersinar dan mendapat tempat tertinggi di setiap penduduk negeri.
Obrolan seru Ferdy dan Kepala Bekraf Triawan Munaf diakhiri dengan arti bisnis dalam 3 kata, jawabnya “jujur, kerja keras, dan inovatif”.
Sejauh mana Badan Ekonomi Kreatif hingga kini dan tantangan apa yang harus diatasi? Berikut penjelasan Triawan Munaf melalui program The Captain 103.8 FM Brava Radio yang dipandu Ferdy Hasan, pada Kamis [22/10] lalu.
Badan Ekonomi Kreatif [Bekraf]
“Hampir semua yang Anda lihat di sekeliling kita, harus dikembangkan oleh kami. Setidaknya ada 16 subsektor yang harus kami kembangkan.
“Kalau dianalogikan sebagai sebuah produk, Bekraf sudah diumumkan tetapi produknya belum ada, harganya belum tahu, tapi namanya sudah. Sehingga orang yang begitu dengar namanya ‘pada ngantri di depan toko‘, ingin segera tahu sudah sampai mana tugasnya. Berarti apa, harapan mereka terhadap ekonomi kreatif dan badan yang mengurusinya sangat tinggi.
“Saya setiap hari bertemu dengan stake holder [pelaku industri kreatif], selain dari individu ada juga dari asosiasi. Kira-kira sudah lebih dari 220 kali meeting. Saya ajak bicara semua supaya tahu banget suasana hati, kondisi mereka, tantangan-tantangan mereka, regulasi-regulasi yang menurut mereka menghambat. Dan itu cukup memberikan mereka ketenangan.”
Tantangan
“Tantangannya ada di regulasi lama. Mereka sudah maju dengan teknologi digital tapi peraturan belum sesuai dan sejalan. Jadi gap itu adalah tugas awal kami. Sehingga harus banyak sekali pertemuan-pertemuan dengan kementerian lain, lembaga lain, untuk bisa sinergi dan siap ‘berlayar’ dalam dunia digital ini.”
Hal terpenting
“Saya selalu bicara dengan mereka yang sudah maju; Korea, Prancis, Amerika, China juga, dan mereka selalu mengatakan, ‘Sabar, kami tahu hambatannya banyak sekali dalam memajukan ekonomi kreatif’, ‘Kami butuh 13 tahun untuk seperti ini’, kata orang film dari Korea. ‘Bangun fondasi, jangan maju tanpa fondasi yang kuat, nanti akhirnya seperti komestik saja.’
“Karenanya untuk saya pribadi, lebih baik betul-betul memperkuat landasan, untuk nanti yang meneruskannya punya landasan yang kokoh.”
Dari ke-16 subsektor mana yang paling prioritas
“Ada 2 mashab dalam melihat ini. Yang satu melihat apa yang sudah besar sekarang itulah yang didorong lebih besar lagi. Seperti kuliner, fashion, kerajinan, itu kan sudah besar-besar kontribusinya kepada PDB, dan memang selalu pesat tumbuhnya tanpa ada Badan Ekonomi Kreatif pun.
“Tapi ada juga mashab lain yang melihat, justru biarkan mereka tumbuh dengan sendirinya, tentu dengan perhatian juga dari kami, tapi konsentrasi pada hal-hal yang masih under develope, seperti film, musik, dan digital. Kalau mereka dapat perhatian dan tumbuh semakin pesat seperti Korea, yang anggaran film Korea itu sudah sebesar anggaran belanja negara kita, film bisa menjadi lokomotif subsektor lain. Di film bisa masuk, fashion, musik, kuliner, dll.”
Itu dia Brava Listners ringkasan cerita di obrolan seru The Captain yang berakhir pada jam 10 pagi. Semoga industri kreatif yang masih berkembang dan terus melaju ini, semakin bersinar dan mendapat tempat tertinggi di setiap penduduk negeri.
Obrolan seru Ferdy dan Kepala Bekraf Triawan Munaf diakhiri dengan arti bisnis dalam 3 kata, jawabnya “jujur, kerja keras, dan inovatif”.
Cerita Darmin Soal Gejolak Ekonomi RI Sejak Zaman Soeharto
Cerita Darmin Soal Gejolak Ekonomi RI Sejak Zaman Soeharto
Darmin mengaku tidak asing masuk ke lingkungan Kementerian Koordinator Perekonomian. Sebab, ia sudah malang melintang di dunia pemerintahan selama 20 tahun.
"Saya sebetulnya datang ke sini merasa tidak asing dan merasa cukup akrab. Walaupun mungkin sebagai orang baru, belum kenal betul dengan anda, tapi sebagai institusi, masuk ke pemerintahan sudah 20 tahun, pada waktu itu ekonomi Indonesia juga sedang mulai ada gejolak," ujar Darmin di kantornya, Lapangan Banteng, Rabu (12/8/2015).
Menurut Darmin, sejak masa pemerintahan Presiden Soeharto ekonomi Indonesia tumbuh lebih baik ketimbang sekarang ini yaitu sekitar 7-8%. Pertumbuhan bagus tapi dengan transaksi berjalannya yang selalu defisit, sekitar 0,5% dari PDB.
"Walau pun tidak besar, dianggap defisit ringan yang tidak akan menimbulkan risiko, dulu gejolak ekonomi dunia tidak seperti sekarang," ujarnya.
Ia mengatakan, Indonesia pernah dua kali mengalami lonjakan defisit transaksi berjalan di masa pemerintahan Soeharto, yaitu pada 1983 dan sekitar 1994-1995.
"Waktu 1983 saya belum masuk pemerintah. Waktu itu pemerintah melakukan perombakan besar-besaran, tadinya berorientasi ke dalam dirombak ke luar," ujarnya.
Pada rentang 1994-1995 defisit Indonesia hampir mencapai 3,5% dari PDB. Ini yang akhirnya berbuntut kepada krisis moneter di 1998.
"Sekarang juga walaupun jauh dengan krisis kita mengalami situasi ekonomi yang tidak begitu nyaman, kantor Kemenko dan BI selalu dikritisi terus kalau terjadi fluktuasi seperti sekarang ini," katanya.
Padahal, kata Darmin, ia percaya pemerintah sudah bekerja dan mengelola sektor keuangan Indonesia dengan baik. Sayangnya, penilaian masyarakat selalu memberatkan pemerintah.
"Dalam situasi seperti sekarang ini bagaimana pun daya kritis masyarakat itu yang kurang bagus dianggap tidak bagus, oleh karena itu saya mengajak teman-teman untuk lebih akurat," ujarnya.
Ketidakakuratan ini, kata Darmin, disebabkan oleh data yang tidak jelas. Oleh karena itu, pemerintah harus bisa memberikan data yang jelas dan transparan.
"Kelihatannya ya harus dimulai dengan data yang akurat, kalau datanya salah pasti kesimpulannya salah. Oleh karena itu, yang pertama dan penting adalah kalibrasi data, tidak bisa kita kemudian data untuk suatu hal sederhana ada 3-4 macam, itu mesti salah kesimpulannya," katanya.
Di Depan JK, Muliaman Cerita Soal Tantangan Ekonomi RI Hadapi Tekanan Global
Di Depan JK, Muliaman Cerita Soal Tantangan Ekonomi RI Hadapi Tekanan Global
"Kita saksikan dalam 2 minggu terakhir betapa besar tekanan yang terjadi di pasar keuangan Tiongkok," ujar Ketua Dewan Komisioner OJK Muliaman D Hadad dalam Pertemuan Tahunan OJK yang digelar di Ballroom Hotel Indonesia Kempinski, Jakarta, Jumat (15/1/2016).
Berbagai respon yang ditempuh oleh negara-negara tersebut, yang pada dasarnya bertujuan untuk membalikkan atau menguatkan proses pemulihan ekonomi negara masing-masing, pada gilirannya justru menimbulkan dinamika baru di pasar keuangan, dan memberikan tekanan yang signifikan pada pasar keuangan diemerging markets.
Namun, imbas negatif dari perkembangan yang terjadi di lingkup global tersebut berhasil dimitigasi. Tentu saja hal ini tidak terlepas dari upaya bersama, termasuk berbagai kebijakan yang telah ditempuh oleh Pemerintahdan seluruh otoritas perekonomian dalam menjaga stabilitas sistem keuangan nasional.
"Akhirnya, kita dapat menutup tahun 2015 dengan capaian yang cukup baik, yakni pertumbuhan ekonomi yang relatif tinggi, apalagi jika dibandingkan dengan negara-negara emerging markets. Begitu pula dengan sistem keuangan, yang secara umum berada dalam level yang stabil," ujar dia.
Meskipun stabilitas sistem keuangan relatif tetap terjaga, perekonomian Indonesia masih tetap terekspos pada beberapa tantangan, terutama perlambatan pertumbuhan ekonomi. Apalagi, perlambatan pertumbuhan ekonomi tersebut diiringi oleh intermediasi lembaga jasa keuangan yang kurang optimal.
"Belum lagi kita juga menghadapi penurunan daya beli masyarakat, peningkatan kemiskinan, dan melebarnya tingkat ketimpangan seperti yang dimuat dalam rilis terakhir laporan Bank Dunia tahun lalu," katanya.
Tahun 2016 ini juga adalah tahun di mana inisiatif Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) dimulai. Di satu sisi tidak sedikit peluang dan kesempatan yang akan terbuka lebar, disisi lain Kita akan menghadapi tingkat kompetisi yang lebih tinggi di banyak bidang.
"Oleh karena itu, Kita harus tetap focus untuk dapat menciptakan pertumbuhan ekonomi nasional yang optimal. Saya memandang momentum inflasi yang rendah harus dapat kita manfaatkan untuk meningkatkan kegiatan produksi domestik, dengan memanfaatkan ruang ekspansi dari sistem keuangan. Dan hal tersebut menuntut ikhtiar total serta inisiatif dan terobosan dari kita semua," pungkasnya.
Selasa, 08 Maret 2016
CINTAI PRODUK DALAM NEGERI UNTUK HADAPI PASAR GLOBAL / AFTA-CHINA

Setiap negara berkeinginan membuka diri terhadap arus lalu lintas barang dan jasa internasional, Dengan adanya perdagangan bebas tampaknya menjadi kebutuhan bagi negara-negara di dunia, ASEAN Forum Trade Agreement - China merupakan bentuk skema dimana dapat melakuan perdagangan bebas dalam suatu area/wilayah, Skema mewujudkan AFTA - China melalui: penurunan tarif hingga menjadi 0-5%, penghapusan pembatasan kuantitatif dan hambatan-hambatan non tarif lainnya. Oleh karena itu, hubungannya dengan AFTA bahwa Indonesia merupakan salah satu tujuan dari pasar itu sendiri. Sudah mafhum produk-produk China menawarkan dengan harga yang murah.
Salah satu ancaman produk kita adalah membanjirnya produk-produk China. Produk-produk China yang masuk ke Indonesia dengan harga yang sangat murah. Tentu saja konsumen akan memilih produk-produk yang murah meskipun dengan kualitas yang sedang. Namun dalam jangka panjang justru akan mengancam produk dalam negeri.
Kita tau bahwa batik menjadi produk domestik yang ngetren saat ini. Namun seperti yang kita ketahui potensi pasar batik di Indonesia ini juga dilirik oleh China. Produk batik mereka pun menyerbu pasar batik kita. Hal ini terjadi mulai tahun 2008, tahun di mana kita belum terikat perjanjian AFTA plus China. Lalu bagaimana nasib batik domestik kita sekarang ? Ketika produk China bisa dengan mudahnya membanjiri pasar kita dengan harga yang jauh lebih murah dari produk domestik ?
Pasar Klewer yang menjadi tempat transaksi batik di Solo dan umumnya di Jawa, adalah tempat yang dapat dijadikan acuan untuk mengetahui bagaimana penetrasi batik China terhadap pasar batik saat ini dan bagaimana kesiapan pelaku bisnis batik domestic.
Untung nya...Pedagang dan pembatik di pasar Klewer cukup optimis bahwa mereka tetap bisa eksis karena konsumen yang berkunjung ke pasar Klewer biasanya adalah mereka yang cukup “fanatik” dengan batik Solo, baik bahan, motif dan coraknya. Kedekatan budaya inilah yang jadi sumber optimisme tersebut. “Orang menyukai batik Solo karena warnanya yang kalem, motifnya yang mencerminkan budaya kita, dan bahannya yang beragam, mulai dari sutera, katun, mori, dan sebagainya. Sementara batik China motifnya lain, warna yang digunakan juga cukup “nyeter” alias terang, dengan warna dominan hitam, merah dan kuning.
Mengenai apakah penjual akan menjual produk China atau tidak, mengingat harganya yang lebih murah, pedagang pasar Klewer mengungkapkan komitmennya bahwa mereka memprioritaskan akan menjual batik Solo dan batik Indonesia lainnya. “Kita kan sudah menjalin hubungan baik dengan para pembatiknya Pak.. ya sebisa mungkin kita lebih memilih menjual batik mereka. Jika kita memilih menjual batik China, berarti kita membunuh usaha kecil saudara kita sendiri.” Agak terharu mendengar komitmen pedagang tersebut, semoga ini ga cuma lip-service aja dan juga menjadi keyakinan semua pedagang batik di Indonesia.
Dalam hal ini pemerintah harus lebih memproteksi batik maupun produk domestik lain, mulai dari proses produksinya hingga distribusinya. Di skala produksi, pemerintah harus bisa menjaga kestabilan harga bahan baku batik. Pemerintah harus bisa menjamin ketersediaannya dengan harga yang bisa dijangkau oleh pembatik yang rata-rata berskala kecil dan menengah. Di skala distribusi, pemerintah harus bisa menjamin ketersediaan infrastruktur pasar yang mendukung terjadinya transaksi. Seperti yang kita tahu, sebagian transaksi batik sekarang masih dilakukan di pasar tradisional. Oleh karenanya, pemerintah harus bisa menciptakan pasar tradisional seperti pasar Klewer ini menjadi pasar yang tidak lagi kumuh dan semrawut. Menciptakan pasar yang nyaman, bisa diakses oleh pedagang maupun konsumen dengan leluasa. Pemerintah juga harus memfasilitasi para pembatik untuk melebarkan sayap pemasarannya hingga ke luar negeri, melalui pameran dan sebagainya.
Di sisi lain, pemerintah juga berharap pembatik benar-benar meningkatkan kualitas batik yang mereka produksi. Jika secara harga mungkin kita tidak akan bisa semurah produk China, untuk itu, kita harus bisa memastikan bahwa kualitas yang kita tawarkan juga sebanding dengan harga tersebut. Pemerintah juga berharap kepada pedagang untuk memberikan service yang memuaskan saat transaksi, memberikan informasi yang benar mengenai batik, sehingga setidaknya konsumen pun mulai terdidik soal batik.
Sedangkan kita sebagai konsumen, tak cukup mewujudkan cinta terhadap batik hanya dengan memakainya saja. Sebaiknya kita belajar juga mengenal batik Indonesia. Mempelajari kekhasannya masing-masing, bahan, corak dan motifnya, sehingga kita dapat dengan mudah mengenali mana yang batik Indonesia dan mana yang batik China. Kita harus belajar mengenai pembuatan batik yang membutuhkan ketekunan dan ketelatenan, sehingga bisa memahami mengapa harga batik tulis mahal. Kita sebaiknya juga mencari informasi mengenai kualitas batik, sehingga tak mudah tertipu,seperti yang kita ketahui belakangan ini banyak produk-produk asing yang memakai merk dalam negri. Terakhir, kita juga belajar untuk ikhlas, ngak apa-apa lah membeli batik lokal dengan harga yang lebih mahal, demi keberlanjutan usaha saudara-saudara kita.
Lalu bagaimanakah nasib produk- produk domestik lainnya? Itu semua tergantung kita sebagai generasi – generasi muda untuk tetap membeli produk dalam negeri dan jangan mudah tertipu dengan produk yang asing itu semua demi kelanjutan nasib perekonomian negara kita yang tercinta ini.
Namun, Jika sekali saja kita salah langkah, AFTA – CHINA justru akan membabat habis sektor industri dan mengancam bertambahnya angka pengangguran di dalam negeri. Konsekuensinya akan berimbas pada Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Sebab, produk-produk yang dihasilkan oleh para buruh nasional tidak mampu bersaing di pasar. Ketidakmampuan dalam persaingan tersebut berdampak pada produk yang dibuat oleh para buruh dalam negeri mau tidak mau harus gulung tikar. Pemerintah juga harus ikut serta dengan meningkatkan kesejahteraan para buruh, jika kita lihat dari sistem Pemerintah China mereka sangat konsen untuk mendukung tingkat kesejahteraan buruh sebagai faktor produksi industrinya. Pemerintah telah menyediakan sistem infrastruktur yang mendukung kenyamanan dan kesejahteraan bagi para buruh. Sistem transportasi publik yang gratis bagi buruh. Begitupun dengan biaya pendidikan yang diberlakukan secara gratis.
Dengan begitu, imbalan yang diterima oleh buruh China dan Indonesia secara kualitatif mempunyai nilai yang berbeda. Buruh Indonesia harus menghitung kembali gaji yang mereka peroleh untuk berbagai macam pengeluaran. Sedangkan Buruh China hanya akan melakukan pengeluaran dari imbalan yang diterimanya untuk biaya konsumsi sehari-hari saja.
”Mari Bersama Kita Hadapi AFTA-CHINA”
Pada januari 2010 seperti yang telah kita ketahui negara kita telah menandatangani perjanjian ASEAN Forum Trade Agreement - China, sementara persiapan di tingkat akar rumput masih minim. jika dibatalkan, harga diri bangsa jadi taruhan.
AFTA - China sebagai bagian dari program pasar bebas yang tak bisa dihindarkan lagi. tidak ada altematif lain, kita harus menghadapinya sebagai tantangan. Tantangan untuk maju, tantangan untuk siap bersaing dengan negara mana pun termasuk China dan tantangan untuk menunjukkan kemandirian ekonomi kita.
Salah satu cara untuk mengantisipasinya, kita perlu terus menggelorakan semangat "aku cinta produk Indonesia". Kalau perlu dengan tekad bulat sehingga produk dalam negeri benar-benar lebih di utamakan oleh masyarakat luas di seluruh pelosok Tanah Air.
Dengan terus-menerus mendorong diri kita untuk tidak membeli barang-barang impor dan lebih diarahkan untuk menggunakan produk-produk dalam negeri, dampaknya pasti akan sangat luar biasa, Barang-barang asing bisa saja menjadi tak laku di pasaran, Dengan demikian, hal ini tentu akan bisa semakin meningkatkan kembali dunia usaha dan industri nasional kita.
Menghadapi China - AFTA, yang terpenting, bagaimana kita mengantisipasinya. Kalau negara-negara lain yang selevel kita, seperti Malaysia, Singapura, Filipina, Thailand, dan Brunei Darussalam saja menyatakan siap, Indonesia juga harus siap, Kalau perlu kita harus menunjukkan kesiapan yang lebih.
Bangsa Indonesia punya harga diri jangan sampai gara-gara kita menolak China - AFTA lantas level kita direndahkan dan dianggap sekelas Myanmar, Kamboja, dan Laos yang akan menerapkan pasar bebas mulai 2015. Ingat, ketika sebuah kesepakatan telah ditandatangani maka harus dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.
Jangan sampai kita disebut sebagai bangsa pecundang, bangsa yang mudah menyerah karena mundur dari kesepakatan pasar- bebas dengan alasan belum siap. Melalui proses yang rumit mungkin bisa saja keinginan tersebut dipenuhi tapi jangan kaget kalau Indonesia nanti tak dianggap lagi dan tak diikut sertakan dalam forum-forum pergaulan internasional.
Jadi sebaiknya Kita harus banyak belajar dari negara berkembang salah satu nya seperti korea selatan. Salah satu faktor yang menyebabkan Korea Selatan mempunyai perekonomian yang baik adalah rasa nasionalis yang tinggi, yaitu mencintai produk dalam negeri. Sebaiknya kita meniru perilaku tersebut. Dan yang terpenting adalah kesadaran dari dalam diri kita, bukannya dalam bentuk paksaan. Bangsa Indonesia adalah bangsa yang memiliki jumlah penduduk yang besar sehingga memiliki potensi yang cukup besar untuk mendongkrak perekonomian. Dengan tersedia SDM yang cukup besar dapat menunjang untuk menjadi negara Industri, seperti AS, Jepang, Jerman, dll. Hebatnya Korsel adalah, keterlambatan Negara nya bangkit daripada Indonesia tetapi perekonomiannya cukup jauh meninggalkan Indonesia. Dan mencintai produk dalam negeri adalah kunci utamanya untuk bangkit.
Walaupun di Indonesia, ajakan untuk mencintai produk dalam negeri sudah mulai gencar dipublikasikan. Tetapi, pengaruhnya tidak begitu terlihat, bahkan bisa dikatakan sama sekali tidak terlihat. Masyarakat masih belum mempercayai kualitas produk dalam negeri, sungguh sangat memprihatinkan. Imej bahwa produk dalam negeri mudah rusak dan kualitasnya biasa – biasa aja sudah hinggap di pikiran mereka. Apalagi beberapa produk luar negeri yang lebih murah, merupakan salah satu pemicu untuk tidak membeli produk dalam negeri. Bayangkan, jika semakin banyak penduduk Indonesia yang membeli produk luar negeri, sama saja kita mensejahterakan Negara lain. Dan lama kelamaan, perusahaan dalam negeri akan jatuh.
Alternatif lain dalam meningkatkan perekonomian Indonesia adalah dengan cara bekerja pada perusahaan dalam negeri. Walaupun rata-rata besarnya gaji tidak sebanyak perusahaan internasional, hal ini dapat menunjukkan rasa nasionalisme kita. Semakin banyak orang – orang Indonesia yang akan bekerja pada perusahaan dalam negeri akan meningkatkan peluang diperolehnya SDM yang berkualitas sehingga menunjang dalam peningkatan produk dalam negeri.
Tidak hanya itu, harus juga diimbangi dengan peningkatan pendidikan sehingga dihasilkan SDM yang benar – benar berkualitas karena produk dalam negeri seharusnya juga dibuat oleh penduduk Indonesia. Dan kita sebagai generasi muda Sudah saatnya berpikir untuk jangka panjang. Meningkatkan perekonomian dengan cara mencintai produk dalam negeri.
Seperti yang dikatakan bapak Heppy Trenggono(koord. Beli Indonesia) ;
“Membeli Indonesia. Membeli produk bukan karena lebih baik, bukan karena lebih murah tapi karena buatan Indonesia.
Membela Indonesia. Sikap jelas dalam pembelaan. Membela martabat bangsa, membela kejayaan bangsa.
Menghidupkan Persaudaraan. Aku ada untuk kamu, kamu ada untuk aku, kita ada untuk tolong menolong”.
Saya sangat setuju dengan beliau, kata-katanya mampu memotivasi/mengerakkan hati saya untuk lebih mencintai produk indonesia.
Ayo..!!! sama-sama kita ucapkan “Aku Cinta Produk Indonesia” yaa..seperti itu.... kalau bisa di ulang kembali agar selalu ada dalam ingatan kita..
Mungkin kata-kata itu sudah tidak asing lagi di telinga kita Sebuah kalimat yang tidak henti-hentinya dilontarkan pihak pemerintah dan produsen dalam negeri yang menyiratkan ajakan untuk seluruh masyarakat agar membeli dan memakai produk-produk yang diproduksi oleh produsen domestik. Hal ini dikarenakan pembelian produk dalam negeri yang memiliki dampak luar biasa terhadap perekonomian bangsa. Pembelian produk dalam negeri juga menumbuhkembangkan jati diri bangsa Indonesia di mata internasional.
Seperti yang kita ketahui sekarang ini, pemerintah dan perusahaan domestik tengah berupaya agar masyarakat dapat membeli produk-produk dalam negeri. Salah satunya adalah dengan gencarnya iklan dan reklame yang dipasang di setiap media yang berisi pesan untuk selalu membeli dan memakai produk-produk dalam negeri sebagai cerminan rasa nasionalisme dan bela negara. Selain itu, pemerintah juga telah mengeluarkan instruksi tertulis dalam Inpres No.2 Th. 2009 Tentang Penggunaan Produk Dalam Negeri Dalam Pengadaan Barang dan Jasa. Hal ini juga telah dikuatkan dengan Inmenperdag yang mengharuskan setiap unsur pemerintah melakukan pengadaan barang dan jasa dengan produk dalam negeri.
Namun sebagian besar masyarakat tetap tidak menghiraukan imbauan tersebut. sementara industri lokal tidak dapat bersaing di negeri sendiri dan tertatih-tatih untuk tetap bertahan.
Dalam hal ini, konsumen yang rasional tidak akan memilih produk dalam negeri yang tidak memiliki daya saing hanya berdasarkan anjuran pemerintah. Anjuran menggunakan produk-produk dalam negeri memang bukan merupakan hal yang negatif. Namun, hal ini akan menjadi inefektif ketika pemerintah hanya bergerak sendirian. Sehingga dibutuhkan peran setiap elemen masyarakat dalam menjadikan produk-produk dalam negeri dapat diminati, salah satunya adalah pelaku bisnis lokal.
Christian Lovelock : mengemukakan bahwa konsumen tidak akan membeli sebuah produk yang telah dipersepsikan memiliki benefit yang tidak sebanding dengan biaya yang dikeluarkan konsumen. Sama halnya dengan produk-produk dalam negeri yang secara umum telah dipersepsikan negatif dengan konsumen lokal. Disinilah peran pelaku bisnis lokal dalam menawarkan produknya ke pasar. Pelaku bisnis lokal tersebut memiliki pemikiran bahwa konsumen tidak akan terpengaruh hanya pada anjuran pemerintah, dan konsumen akan berfikir secara rasional di dalam melakukan pembelian. Produsen lokal juga harus mengerti bahwa produknya harus menyesuaikan dengan apa yang diinginkan konsumen.
Produk-produk yang ditawarkan harus memiliki kualitas yang sesuai atau lebih tinggi dengan biaya yang dikeluarkan konsumen. Dan produk-produk tersebut harus memiliki competitive advantage, yaitu keunggulan produk tersebut yang tidak dimiliki produk lainnya.
Selain itu, pelaku bisnis lokal harus mengenali siapa konsumen yang sebenarnya. Perlu diketahui bahwa harga tidak selamanya menjadi faktor utama sebuah produk akan diminati oleh sejumlah kalangan. Banyak faktor lain selain harga yang dapat menentukan sebuah produk dapat dibeli, seperti halnya kualitas, kemasan, merek, kesesuaian, dan masih banyak lagi. Sehingga, faktor tingginya biaya produksi yang menaikkan harga masih dapat dikendalikan dengan penyesuaian terhadap apa yang diinginkan konsumen. Pada akhirnya, produk-produk dalam negeri yang telah menyesuaikan dengan karakteristik konsumen, dapat meningkatkan daya saing di pasar domestik. Sehingga akhirnya berdampak pada berubahnya pandangan awal negatif konsumen terhadap produk-produk dalam negeri ke arah positif, dengan begitu peran pemerintah dalam menganjurkan pembelian produk-produk dalam negeri dapat berpengaruh signifikan, karna pada saat itu juga produk-produk dalam negeri telah memiliki daya saing dengan produk-produk asing. Sehingga dalam jangka panjang terjadi sebuah kebiasaan baru bagi masyarakat Indonesia dalam memilih produk dalam negri/Indonesia-minded, dengan seiring berjalannya waktu perekonomian indonesia akan jaya. Amiiin.........
Pengaruh Globalisasi Terhadap Nilai-Nilai Nasionalisme

Globalisasi adalah suatu proses tatanan masyarakat yang mendunia dan tidak mengenal batas wilayah.
Globalisasi pada hakikatnya adalah suatu proses dari gagasan yang dimunculkan, kemudian ditawarkan untuk diikuti oleh bangsa lain yang akhirnya sampai pada suatu titik kesepakatan bersama dan menjadi pedoman bersama bagi bangsa- bangsa di seluruh dunia. (Menurut Edison A. Jamli dkk.Kewarganegaraan.2005)
Menurut pendapat Krsna (Pengaruh Globalisasi Terhadap Pluralisme Kebudayaan Manusia di Negara Berkembang.internet.public jurnal.september 2005). Sebagai proses, globalisasi berlangsung melalui dua dimensi dalam interaksi antar bangsa, yaitu dimensi ruang dan waktu. Ruang makin dipersempit dan waktu makin dipersingkat dalam interaksi dan komunikasi pada skala dunia. Globalisasi berlangsung di semua bidang kehidupan seperti bidang ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya, pertahanan keamanan dan lain- lain. Teknologi informasi dan komunikasi adalah faktor pendukung utama dalam globalisasi. Dewasa ini, perkembangan teknologi begitu cepat sehingga segala informasi dengan berbagai bentuk dan kepentingan dapat tersebar luas ke seluruh dunia.Oleh karena itu globalisasi tidak dapat kita hindari kehadirannya.
Kehadiran globalisasi tentunya membawa pengaruh bagi kehidupan suatu negara termasuk Indonesia. Pengaruh tersebut meliputi dua sisi yaitu pengaruh positif dan pengaruh negatif. Pengaruh globalisasi di berbagai bidang kehidupan seperti kehidupan politik, ekonomi, ideologi, sosial budaya dan lain- lain akan mempengaruhi nilai- nilai nasionalisme terhadap bangsa.
Pengaruh positif globalisasi terhadap nilai- nilai nasionalisme
Dilihat dari globalisasi politik, pemerintahan dijalankan secara terbuka dan demokratis. Karena pemerintahan adalah bagian dari suatu negara, jika pemerintahan djalankan secara jujur, bersih dan dinamis tentunya akan mendapat tanggapan positif dari rakyat. Tanggapan positif tersebut berupa rasa nasionalisme terhadap negara menjadi meningkat.
Dari aspek globalisasi ekonomi, terbukanya pasar internasional, meningkatkan kesempatan kerja dan meningkatkan devisa negara. Dengan adanya hal tersebut akan meningkatkan kehidupan ekonomi bangsa yang menunjang kehidupan nasional bangsa.
Dari globalisasi sosial budaya kita dapat meniru pola berpikir yang baik seperti etos kerja yang tinggi dan disiplin dan Iptek dari bangsa lain yang sudah maju untuk meningkatkan kemajuan bangsa yang pada akhirnya memajukan bangsa dan akan mempertebal rasa nasionalisme kita terhadap bangsa.
Pengaruh negatif globalisasi terhadap nilai- nilai nasionalisme
Globalisasi mampu meyakinkan masyarakat Indonesia bahwa liberalisme dapat membawa kemajuan dan kemakmuran. Sehingga tidak menutup kemungkinan berubah arah dari ideologi Pancasila ke ideologi liberalisme. Jika hal tesebut terjadi akibatnya rasa nasionalisme bangsa akan hilang
Dari globalisasi aspek ekonomi, hilangnya rasa cinta terhadap produk dalam negeri karena banyaknya produk luar negeri (seperti Mc Donald, Coca Cola, Pizza Hut,dll.) membanjiri di Indonesia. Dengan hilangnya rasa cinta terhadap produk dalam negeri menunjukan gejala berkurangnya rasa nasionalisme masyarakat kita terhadap bangsa Indonesia.
Mayarakat kita khususnya anak muda banyak yang lupa akan identitas diri sebagai bangsa Indonesia, karena gaya hidupnya cenderung meniru budaya barat yang oleh masyarakat dunia dianggap sebagai kiblat.
Mengakibatkan adanya kesenjangan sosial yang tajam antara yang kaya dan miskin, karena adanya persaingan bebas dalam globalisasi ekonomi. Hal tersebut dapat menimbulkan pertentangan antara yang kaya dan miskin yang dapat mengganggu kehidupan nasional bangsa.
Munculnya sikap individualisme yang menimbulkan ketidakpedulian antarperilaku sesama warga. Dengan adanya individualisme maka orang tidak akan peduli dengan kehidupan bangsa.
Pengaruh- pengaruh di atas memang tidak secara langsung berpengaruh terhadap nasionalisme. Akan tetapi secara keseluruhan dapat menimbulkan rasa nasionalisme terhadap bangsa menjadi berkurang atau hilang. Sebab globalisasi mampu membuka cakrawala masyarakat secara global. Apa yang di luar negeri dianggap baik memberi aspirasi kepada masyarakat kita untuk diterapkan di negara kita. Jika terjadi maka akan menimbulkan dilematis. Bila dipenuhi belum tentu sesuai di Indonesia. Bila tidak dipenuhi akan dianggap tidak aspiratif dan dapat bertindak anarkis sehingga mengganggu stabilitas nasional, ketahanan nasional bahkan persatuan dan kesatuan bangsa.
Pengaruh Globalisasi Terhadap Nilai Nasionalisme di Kalangan Generasi Muda
Arus globalisasi begitu cepat merasuk ke dalam masyarakat terutama di kalangan muda. Pengaruh globalisasi terhadap anak muda juga begitu kuat. Pengaruh globalisasi tersebut telah membuat banyak anak muda kita kehilangan kepribadian diri sebagai bangsa Indonesia. Hal ini ditunjukkan dengan gejala- gejala yang muncul dalam kehidupan sehari- hari anak muda sekarang.
Dari cara berpakaian banyak remaja- remaja kita yang berdandan seperti selebritis yang cenderung ke budaya Barat. Mereka menggunakan pakaian yang minim bahan yang memperlihatkan bagian tubuh yang seharusnya tidak kelihatan. Pada hal cara berpakaian tersebut jelas- jelas tidak sesuai dengan kebudayaan kita. Tak ketinggalan gaya rambut mereka dicat beraneka warna. Pendek kata orang lebih suka jika menjadi orang lain dengan cara menutupi identitasnya. Tidak banyak remaja yang mau melestarikan budaya bangsa dengan mengenakan pakaian yang sopan sesuai dengan kepribadian bangsa.
Teknologi internet merupakan teknologi yang memberikan informasi tanpa batas dan dapat diakses oleh siapa saja. Apa lagi bagi anak muda internet sudah menjadi santapan mereka sehari- hari. Jika digunakan secara semestinya tentu kita memperoleh manfaat yang berguna. Tetapi jika tidak, kita akan mendapat kerugian. Dan sekarang ini, banyak pelajar dan mahasiswa yang menggunakan tidak semestinya. Misal untuk membuka situs-situs porno. Bukan hanya internet saja, ada lagi pegangan wajib mereka yaitu handphone. Rasa sosial terhadap masyarakat menjadi tidak ada karena mereka lebih memilih sibuk dengan menggunakan handphone.
Dilihat dari sikap, banyak anak muda yang tingkah lakunya tidak kenal sopan santun dan cenderung cuek tidak ada rasa peduli terhadap lingkungan. Karena globalisasi menganut kebebasan dan keterbukaan sehingga mereka bertindak sesuka hati mereka. Contoh riilnya adanya geng motor anak muda yang melakukan tindakan kekerasan yang menganggu ketentraman dan kenyamanan masyarakat.
Jika pengaruh-pengaruh di atas dibiarkan, mau apa jadinya genersi muda tersebut? Moral generasi bangsa menjadi rusak, timbul tindakan anarkis antara golongan muda. Hubungannya dengan nilai nasionalisme akan berkurang karena tidak ada rasa cinta terhadap budaya bangsa sendiri dan rasa peduli terhadap masyarakat. Padahal generasi muda adalah penerus masa depan bangsa. Apa akibatnya jika penerus bangsa tidak memiliki rasa nasionalisme?
Berdasarkan analisa dan uraian di atas pengaruh negatif globalisasi lebih banyak daripada pengaruh positifnya. Oleh karena itu diperlukan langkah untuk mengantisipasi pengaruh negatif globalisasi terhadap nilai nasionalisme.
Antisipasi Pengaruh Negatif Globalisasi Terhadap Nilai Nasionalisme
Langkah- langkah untuk mengantisipasi dampak negatif globalisasi terhadap nilai- nilai nasionalisme antara lain yaitu :
Menumbuhkan semangat nasionalisme yang tangguh, misal semangat mencintai produk dalam negeri.
Menanamkan dan mengamalkan nilai- nilai Pancasila dengan sebaik- baiknya.
Menanamkan dan melaksanakan ajaran agama dengan sebaik- baiknya.
Mewujudkan supremasi hukum, menerapkan dan menegakkan hukum dalam arti sebenar- benarnya dan seadil- adilnya.
Selektif terhadap pengaruh globalisasi di bidang politik, ideologi, ekonomi, sosial budaya bangsa.
Dengan adanya langkah- langkah antisipasi tersebut diharapkan mampu menangkis pengaruh globalisasi yang dapat mengubah nilai nasionalisme terhadap bangsa. Sehingga kita tidak akan kehilangan kepribadian bangsa.
Silahkan berikan tanggapan anda mengenai "Pengaruh Globalisasi Terhadap Nilai-Nilai Nasionalisme?"
jangan lupa like and share ya...
Membangun kejayaan ekonomi indonesia

Ada 3 Persoalan Bangsa Indonesia Sebagai Berikut : 1. Lack of Entrepreneur 2. Lack of Character 3. Lack of Strong Player Kita bukan tuan rumah di negeri sendiri ... Pasar textile 80% dikuasai produk asing Pasar farmasi 80% dikuasai produk asing Industri Technology 92% impor Pasar Induk Cipinang tidak lagi ada beras lokal. "... sebagian produk impor masih dengan merk China, Sebagian lagi dilabeli merk Indonesia, seolah-olah itu merk lokal pada hal dari China" -Gatra, 17-23 Februari 2011- Benarkah kita semakin tak berdaya? Tahun 2005, 429 Perusahaan Textile Kolaps Tahun 2008, 2200 industri gulung tikar Tahun 2010, defisit perdagangan dengan China saja mencapai Rp. 53 Triliyun Kini Indonesia berpenduduk 237 Juta pasar yang potensial tapi Indonesia negara Ter-konsumtif ke 2 di Dunia. Coca Cola kini memiliki 400.000 outlet. Kuasai 40% pasar minuman ringan Indonesia. Di Indonesia bisa mencetak Rp. 10 Trilyun/thn Unilever di Indonesia pemakai 160 juta kali/hari 200.000 hak paten di Indonesia, 350 paten/hari 40% pasarnya adalah Indonesia Di Indonesia mencetak Rp. 20 Trilyun/tahun DANONE dengan Aquanya Kuasai 93% pasar AMDK di Indonesia 7,2 Milyar liter/tahun = Rp. 10 Trilyun/tahun Telah merambah ke air tanah Pajak air hanya Rp.5/lt, hanya Rp. 35milyar NESTLE, Produksi 1 Juta liter susu/hari, Mengatur 80% petani susu lokal, Kuasai 50% pasar susu di Indonesia, Transaksi di Indonesia Rp. 200 Triliun/tahun Produk mana yang mampu menghadapi politik Eksklusifitas? Pasar Tradisional makinnnn tergerussss !!! Pasar Modern menggusur pedagang kecil, menghadang pengusaha baru, memangsa produk kecil! Omset toko turun dari rata-rata Rp. 800 ribu menjadi Rp. 400 ribu. 1,6 juta pedagang tradisional bangkrut setiap tahun. DAHULU "kita tidak menguasai TANAH AIR KITA sendiri" SEKARANG "kita tidak menguasai KEHIDUPAN KITA sendiri" Mau kemana Indonesia ku? What You SAY ? 100 % Cintai Indonesia What You DO ? Bekerja untuk produk asing FTA(Free Trade Agreement, Kepres No. 48 Tahun 2004 Membuka Indonesia sebagai PASAR BEBAS Permerindag No. 39 Tahun 2010 per 1 Januari 2010, 54.457 pos dibebaskan PMK No. 261/PMK/011/2010 " Bahan baku dikenakan bea masuk, barang jadi di nol-kan bea-nya". Sejarah pilu yang terus terulang di negeri tercinta... 1976 - 1979 Rancang bangun dan memproduksi pesawat sendiri, dengan membentuk "Airtech industries" IPTN - CASA 1994 IPTN dapat pesanan 120 pesawat N-250 (Gatot Kaca) Tahun 1997, IMF minta Presiden Soeharto agar IPTN dihentikan, 1994-2003 12.000 orang berbakat harus di PHK. 2003 Indonesia menjadi pembeli terbesar pesawat boeing, padahal kita bisa buat produksi sendiri ...? Mengapa banyak bangsa lain di dunia mampu meraih kejayaan sedangkan kita terus terpuruk? Lack of CHARACTER! "Beli Indonesia" Sikap perjuangan kita bangsa Indonesia.. 1. Membeli Indonesia, " Bukan karena lebih baik, bukan karena lebih murah, Tapi karena milik bangsa sendiri ". 2. Membela Indonesia, " Sikap jelas dalam pembelaan, membela martabat Bangsa, membela kejayaan bangsa". 3. 3. MenghidupkanPersaudaraan, " Aku ada untuk kamu, kamu ada untuk aku, Kita ada untuk tolong - menolong". MARI KITA BELI INDONESIA ( MEMBELI INDONESIA, MEMBELA INDONESIA, MENGHIDUPKAN PERSAUDARAAN ...AllAH HU AKBAR !!! )
Waktunya indonesia setara
Indonesia punya segalanya. Sumber daya alam melimpah. Sumber daya manusia tak kalah. Tetapi mengapa Indonesia tak kunjung menjadi negara yang kuat? Negara adi daya. Negara yang mengguncang dunia. Negara yang setara.
Mengapa pula kita masih dipandang sebelah mata. Masih diragukan dan kurang dipercaya. Padahal kita punya semuanya.
Sejarah telah berbicara. Para pendiri bangsa ini telah membuktikan. Duduk sama rata, berdiri sama tinggi dengan pemimpin-pemimpin dunia. Gagasan dan pikiran mereka diapresiasi.
Bung Karno jauh hari telah berujar. “Kami menggoyahkan langit, menggemparkan darat, dan menggelorakan samudra. Agar tidak jadi bangsa yang hidup hanya dari 2.5 sen perhari. Bangsa yang kerja keras, bukan bangsa tempe, bukan bangsa kuli” (Soekarno).
Pak Harto membawa Indonesia menjadi macan Asia. Negeri yang diperhitungkan di kancah pergaulan dunia.
Kita punya prestasi. Kita juga punya reputasi. Dulu kita punya Rudi Hartono, yang menjadi juara All England delapan kali. Kita punya sejarah. Kita juga punya pijakan.
Tetapi mengapa hari ini kita melemah. Semangat kita mengendur. Etos kita keropos. Kita tidak punya semangat lagi untuk mengukir prestasi. Kita tak lagi bisa membingkai reputasi.
Pasti ada yang salah. Jangan dibiarkan. Musti ada yang kita kerjakan. Musti ada yang kita lakukan. Sekarang juga. Indonesia harus kembali setara. Indonesia harus kembali menjadi jawara. Kita tak boleh malu menenteng passport berlambang Garuda.
Silahkan berikan tanggapan anda mengenai "WAKTUNYA INDONESIA SETARA?"
jangan lupa like and share ya...
Strategi Memenangkan Pasar Global

Sebuah tindakan strategis mutlak diperlukan oleh sebuah perusahaan untuk memenangkan pasar. Salah satu strategi yang terkenal saat ini adalah kolaborasi.
Kolaborasi diharapkan mampu meningkatkan kinerja perusahaan dengan bersinergis dengan perusahaan lainnya. Kolaborasi merupakan strategi kerjasama antar perusahaan agar terjadi sinergitas atau keterkaitan manajemen sehingga saling menguntungkan.
Hal ini menjadi pembahasan menarik dalam seminar nasional Teknik Industri & Manajemen Produksi kemarin (6/08) di Novotel Surabaya. Dalam acara dua hari ini yang diikuti oleh puluhan kalangan praktisi usaha maupun kalangan akademisi, diharapkan mampu merancang strategi kolaborasi yang tepat guna meningkatkan persaingan usaha.
Dalam jangka pendek, di mana era perdagangan bebas sudah berlaku, membuat persaingan memenangkan pasar internasional terlebih nasional makin sulit ditebak. Kondisi nasional yang cenderung tidak stabil dan sarat KKN menyebabkan kondisi pasar sulit diduga.
Permasalahan tersebut jelas menyulitkan dunia usaha. Kolaborasi sebagai bentuk kerjasama saling menguntungkan antar kedua belah pihak menjadikan konsumen lebih dimanja dan terpuaskan akan berbagai produk di pasaran. "Kita nggak bisa nunggu sampai negara ini baik baru buka usaha, kita harus bertahan dan berjuang, " tegas Heru Prasetyo, Country Managing Director PT Accenture. Selain itu dia menambahkan, etika dalam berbisnis haruslah tetap dijunjung dalam setiap berkolaborasi. "Jangan pernah mau berkolaborasi dengan orang culas, itu akan mencemarkan nama anda, " katanya mengingatkan.
Beberapa tahun terakhir, dalam melakukan kolaborasi merupakan suatu trend untuk memenangkan atau pun mempertahankan pasar. Contoh kolaborasi yang paling terkenal adalah antara Microsoft dan Intel. Kolaborasi mereka telah menutup peluang pendatang baru untuk bersaing dengan mereka. Data terakhir menunjukkan Microsoft berhasil menguasai nyaris 85 persen pasar sistem operasi komputer. Sedangkan Intel menguasai 70 persen pasar prosessor. "Itu jelas kolaborasi paling nyata di dunia usaha," cetus Sandi, salah satu peserta.
Di Indonesia sendiri, kolaborasi sudah dikenal dalam satu dekade terakhir dengan nama pola kemitraan. Pemerintah mengeluarkan peraturan adanya kewajiban perusahaan besar dengan usaha kecil dan menengah. Meskipun begitu, karena tidak memiliki konsep dan pengendalian yang terarah sehingga tidak berhasil.
Praktek di lapangan seakan menjadikan usaha besar menopang usaha kecil. Bukannya memberi 'alat pancing' namun yang diberikan adalah ikan. Alhasil, usaha kecil tidak menimba ilmu guna meningkatkan produktivitas mereka. "Hal ini jelas tidak menguntungkan pasar maupun industri yang saling bermitra tadi, " jelas Imam Baihaqi, S.T, M.Sc.
Menurutnya, tidak semua kolaborasi saling menguntungkan, terkadang justru membuat ketergantungan sepihak. "Di Indonesia pola kemitraan sudah terlanjur jelek hasilnya, padahal kalau saja terarah dan terkontrol pasti maju, " jelas Dosen Teknik Industri ITS ini.
Saat ditanya mengenai arah kolaborasi yang cenderung melahirkan monopoli. Imam Baihaqi, yang juga menjadi salah pembicara, menjelaskan bahwa memang ada kecenderungan ke sana. Walaupun begitu, konsumen tetaplah diuntungkan bukan dirugikan sebagaimana monopoli biasa. "Mereka hanya berusaha menekan munculnya pendatang baru, " jelasnya singkat.
Sistem Ekonomi Indonesia

Setiap Negara memiliki sistem ekonomi yang berbeda. Seperti Negara barat yang memiliki system ekonomi kapitalis, maupun Negara bagian timur yang menganut sosialis. Bagaimana dengan Indonesia ? Mengarah kemana ? Kapitalis-kah atau sosialis ?
Menurut Landasan idiil Sistem ekonomi Indonesia adalah Pancasila. Artinya sitem ekonomi itu berorientasi kepada :
Ketuhanan Yang Maha Esa (Adanya moral agama,bukan materialisme)
Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab (Tanpa ada eksploitasi)
Persatuan Indonesia (Adanya kebersamaan,kekeluargaan dan Nasionalisme)
Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan( mementingkan hajat hidup orang banyak)
Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia(Adanya kesetaraan)
Pasal 33 UUD 1945 adalah pasal utama bertumpunya sistem ekonomi Indonesia yang berdasar Pancasila, dengan kelengkapannya, yaitu Pasal-pasal 18, 23, 27 (ayat 2) dan 34. Ada beberapa rumusan tentang Ekonomi Pancasila.
A. Rumusan Mubyarto :
Perekonomian digerakkan oleh rangsangan ekonomi, sosial dan moral
Ada kehendak masyarakat untuk mewujudkan pemerataan sosial ekonomi
Nasionalisme selalu menjiawi kebijaksanaan ekonomi
Koperasi merupakan sokoguru perekonomian nasional
Ada keseimbangan antara sentralisme dan desentralisme dalam kebijaksanaan ekonomi.
B. Rumusan Emil Salim :
Sistem Ekonomi yang khas Indonesia sebaiknya berpegang pada pokok- pokok pikiran yang tercantum dalam Pancasila
Dari Pancasila, sila keadilan sosial yang paling relevan untuk ekonomi.
Sila keadilan sosial mengandung dua makna : Prinsip pembagian pendapatan yang adil dan Prinsip demokrasi ekonomi
Pembagian pendapatann masa penjajahan tidak adil, karena ekonomi berlangsung berdasarkan free fight liberalisme
Prinsip demokrasi ekonomi ditegaskan (diatur) dalam UUD 1945 pada pasal-pasal 23, 27, 33, 34.
C. Rumusan Sumitro Djoyohadikusumo
Ikhtiar untuk senantiasa hidup dekat dengan Tuhan YME
Ikhtiar untuk mengurangi kemiskinan dan pengangguran dalam penataan perekonomian masyarakat
Pola kebijakan ekonomi & cara penyelenggaraannya tidak menimbulkan kekuatan yang mengganggu persatuan dan kesatuan bangsa
Rakyat berperan dan berparsitipasi aktif dalam usaha pembangunan
Pola pembagian hasil produksi lebih merata antar golongan, daerah, kota-desa
Ciri-ciri system ekonomi Pancasila yaitu :
Yang menguasai hajat hidup orang banyak adalah negara / pemerintah. Contoh hajad hidup orang banyak yakni seperti air, bahan bakar minyak / BBM, pertambangan / hasil bumi, dan lain sebagainya.
Peran negara adalah penting namun tidak dominan, dan begitu juga dengan peranan pihak swasta yang posisinya penting namun tidak mendominasi. Sehingga tidak terjadi kondisi sistem ekonomi liberal maupun sistem ekonomi komando. Kedua pihak yakni pemerintah dan swasta hidup beriringan, berdampingan secara damai dan saling mendukung.
Masyarakat adalah bagian yang penting di mana kegiatan produksi dilakukan oleh semua untuk semua serta dipimpin dan diawasi oleh anggota masyarakat.
Modal atau pun buruh tidak mendominasi perekonomian karena didasari atas asas kekeluargaan antar sesama manusia.
Secara pasti SEP merupakan landasan normatif-imperatif yang mengandung tuntunan etik dan moral luhur, yang menempatkan rakyat pada posisi mulianya, rakyat sebagai pemegang kedaulatan, rakyat sebagai ummat yang dimuliakan Tuhan, yang hidup dalam persaudaraan satu sama lain, saling tolong-menolong dan bergotong-royong.
Silahkan berikan tanggapan anda mengenai "Sistem Ekonomi Indonesia?"
jangan lupa like and share ya...
Faktor Penyebab Melemahnya Mata Uang Rupiah

Sejak akhir tahun 2013, nilai tukar Rupiah terus melemah, bahkan hingga mencapai level diatas 12.000 Rupiah per Dollar AS. Berdasarkan laporan dari sumber sumber terkait, Nilai tukar rupiah terhadap dolar pada hari ini sudah mencapai Rp14.050 per US$1.
rupiah anjlok dolar naik drastis
Berbagai peristiwa telah diungkapkan oleh pemerintah dan analis ekonomi, disebut-sebut sebagai alasan kenapa Rupiah melemah. Realitanya, Rupiah memang salah satu mata uang terlemah di Dunia, yang nilainya mudah ditekan oleh perubahan kondisi ekonomi, baik di luar maupun di dalam negeri.
Konon, menurut ahlinya, nilai tukar rupiah yang terus melemah akhir-akhir murni disebabkan oleh faktor eksternal dan internal. Faktor eksternal yang menyebabkan anjloknya rupiah dapat disebutkan dengan ringkas seperti di bawah ini.
1. Aksi borong dollar yang dilakukan spekulan asing menjelang akhir tahun 2014.
Aksi ini dipicu oleh momen liburan panjang seluruh umat manusia berkaitan dengan perayaan natal dan tahun baru masehi. Kebutuhan akan Dollar meningkat drastis. Para pelaku dunia usaha atau orang berduit yang ingin berlibur atau pulang kampung tentu lebih memilih dollar untuk pegangan mereka. Di belahan bumi manapun mereka berada, Money changer gampang ditemukan untuk menukar dollar mereka ke mata uang negara tujuan. Lha, kalau mereka pegang rupiah, emang bisa ditukar di Suriah? Wong ISIS saja membayar serdadu bayaran mereka dengan Dollar, kok.
2. Kebijakan moneter Eropa dan Jepang yang melemahkan Euro dan Yen.
Menurut BI, sepanjang tahun 2014, euro melemah 13 persen dan yen melemah 12 persen. kebijakan moneter (quantitative easing/QE) diambil agar pasar mata uang pemakai euro dan yen lebih kompetitif.
Imbasnya, kondisi ekonomi negara-negara berkembang menjadi tak stabil dan mata uang mereka cenderung melemah. Wajar, ibarat film, rupiah hanyalah figuran semata, bukan pemeran utama dalam film perekonomian dunia.
3. Menguatnya Dollar sebagai imbas membaiknya data ekonomis Paman Sam dan keinginan AS menaikan suku bunga lebih cepat dari perkiraan.
Menurut Chief Economist & Strategic Investment IGIco Advisory Martin Panggabean, kenaikan suku bunga akan berdampak terhadap tingginya capital outflow. Martin menganjurkan agar pemerintah tetap konsisten menerapkan penggunaan rupiah dalam negeri dan menjaga volatilitas rupiah pada transaksi antarbank dari serangan spekulan.
Cara lain yang disarankan oleh Martin adalah menggenjot produksi pangan. Pendapat Martin ini memang sangat masuk akal. Jika pemerintah hanya sibuk menjaga stabilitas rupiah dengan berbagai cara, tapi melupakan hajat hidup orang banyak seperti kesediaan pangan, dapat dipastikan rupiah akan terus melemah. Sebab, kita harus impor pangan terus dari negara tetangga sebagai dampak el nino. Sekali lagi, impornya dihargai dengan mata uang asing, bukan rupiah!
Selain faktor eksternal di atas. Dikutip dari berbagai sumber, ada faktor internal yang menodorong semakin lemahnya rupiah.
1. Kecenderungan perusahaan dalam negeri membayar utang dalam bentuk dollar.
Misalnya beli sapi India. Perusahaan asal india yang mengimpor sapi ke Indonesia lebih suka dibayar dengan dollar dari pada dengan rupee, apalagi dengan rupiah. Dollar akhirnya laris manis dan stok berkurang. Kurs beli dollar menguat, sedangkan kurs jual rupiah melemah. Ibarat buah-buahan, kalau sudah membajiri pasaran harganya memang cenderung melemah. Prinsip pedagang, dari pada merugi atau membusuk, mending mangganya di jual murah.
2. Produk impor membanjiri pasaran, sementara ekspor negara kita rendah.
Negara mengalami devisit perdagangan, akibatnya nilai tukar rupiah melemah. Cilakanya, kita tak bisa mengurangi ketergantungan terhadap barang impor. Apalagi jika sudah berkaitan dengan bahan baku suatu industri, katakanlah suku cadang kendaraan bermotor. Kita masih impor dari Jepang dan Korea Selatan, bahkan kita juara empat soal impor suku cadang otomatif yang dibuat oleh Thailand. Bayangkan!
Yang sangat disayangkan pemerintah lebih suka mengucurkan dana untuk membangun infrastruktur berbiaya tinggi seperti jalan tol, pelabuhan dan sebagainya. Sisi baiknya memang membuat geliat ekonomi rakyat meningkat, interkoneksi antar wilayah lebih mendukung. Masalahnya pergerakan ekonomi tadi, dalam kondisi sekarang, jelas sangat sedikit manfaatnya jikalau rupiah terperosok terlampau dalam. Malah mendorong inflasi makin meninggi.
3. Aktivitas perusahaan asing membayar dividen dalam bentuk dollar ke negara tujuan.
Seandainya ada aturan yang memproteksi dividen dengan dollar, tapi disesuaikan dengan negara tujuan, di mana dividen dibayar dengan mata uang negara pemegang saham, mungkin rupiah tidak akan fluktuatif tiap semester. Problemnya, pemegang saham mana yang setuju laba mereka dibayar dengan kurs mata uang yang menjadi figuran semata seperti rupiah?
Dari uraian singkat di atas, dapatlah kita katakan bahwa banyak sekali faktor yang menyebabkan anjloknya rupiah. Konflik di Timur-Tengah, ledakan di Tianjin, wacana perang dunia ke-3 di semenanjung Korea, ulah spekulan dan pialang saham, sampai kondisi perpolitikan di tanah air serta kinerja pemerintahan yang kurang memuaskan, adalah pemicu lain dari anjloknya nilai tukar rupiah. Itulah resiko yang harus diterima rupiah kalau terus menjadi figuran semata. Tinggal pemerintah sekarang yang berpikir bagaimana caranya agar suatu hari kelak rupiah bisa menjadi pemeran utama dipanggung perekonomian dunia. Semua itu tergantung dari sutradara dan penulis skenarionya. Saya mah penonton setia, siap bayar tiket di tahun 2019 asal semua yang ditayangan berkelas.
Pencarian terkait dari rupiah melemah :
penyebab rupiah melemah
rupiah melemah 2015
rupiah melemah jokowi
rupiah melemah karena
rupiah hari ini
rupiah anjlok


























